UNESCO bahkan telah menetapkan beberapa bahasa daerah di Indonesia sebagai "terancam punah".
Dalam konteks ini, Sekolah Lontara hadir sebagai bentuk nyata dari upaya penyelamatan bahasa dan budaya lokal yang tidak hanya edukatif tetapi juga strategis dalam pembangunan identitas bangsa.
Sebagai penguat, artikel dari Tirto.id (2023) menyebutkan bahwa pelestarian aksara lokal seperti Lontara bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga bagian dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
Baca Juga: Bukan Pulau Gag, Aktivitas Dua Perusahaan Ini Justru Ancam Geopark Raja Ampat
Digitalisasi aksara Lontara bahkan telah mulai digagas agar dapat lebih mudah diakses oleh generasi muda.
Dengan kata lain, inisiatif seperti Sekolah Lontara bukan hanya menjaga masa lalu, tetapi juga merangkai masa depan — sebuah harapan akan kebangkitan budaya lokal di era modern.***
Artikel Terkait
ITB Buka Jalur Mandiri 2025, Ini Syarat Harus Siapkan dan Jumlah Biayanya..!
Rahasia dari Tepian Pantai: Sekolah Ini Buka Pendaftaran Siswa Baru, Tapi Ada Program yang Bikin Terpukau!
Gerbang Sertifikasi Terbuka Tiga Hari: Siap-Siap PPG Daljab Mapel Umum 2025!
Sekolah Garuda Menetas di Ujung Negeri: Revolusi dari Sabang sampai Merauke
Tes Calistung Dihapus dari Syarat Masuk SD Mulai Tahun Ajaran 2025/2026
Revolusi Pendidikan: MK Wajibkan SD-SMP Negeri dan Swasta Gratis untuk Semua
Pemerintah Gelontorkan BSU Rp300 Ribu untuk 17,3 Juta Pekerja Bergaji Rendah dan Guru Honorer
Kemendikdasmen Menuai Apresiasi Nasional: Bukti Nyata Komitmen RAMAH dan Reformasi Birokrasi
100 Sekolah Rakyat Siap Dibuka, Pemerintah Pastikan Akses Pendidikan untuk Anak Termiskin
Revolusi Kepala Sekolah: Pemerintah Pastikan Kualitas dan Pemerataan Melalui Permendikdasmen 2025