Dolar AS Melemah Tajam
Dominasi dolar sebagai mata uang global kembali dipertanyakan. Indeks dolar mencatat semester pertama terburuk sejak 1973 dengan penurunan sekitar 11%, termasuk pelemahan 6,6% sejak awal April.
Dolar anjlok terhadap euro dan peso Meksiko sebesar 8%, serta turun 5% terhadap dolar Kanada. Vincent Mortier, CIO dari manajer aset terbesar Eropa, Amundi, mengatakan bahwa euro masih punya ruang untuk menguat lebih jauh, terlebih kekhawatiran terhadap utang AS turut menekan dolar.
“Saya takkan terkejut jika pada akhir tahun depan kita kembali melihat level $1,30 terhadap euro,” ujarnya, mengingatkan bahwa euro pernah menyentuh $1,60 pada puncaknya di 2008.
Baca Juga: Kredit Pajak Kendaraan Listrik AS Berakhir 30 September, Penjualan EV Diprediksi Melonjak Sementara
Eksportir Incar Kepastian
Pasar saham Eropa telah pulih dari kerugian pasca "Hari Pembebasan Tarif" versi Trump, meski belum menyamai rekor Maret. Sektor eksportir besar seperti farmasi dan otomotif juga bangkit, namun tetap bergerak fluktuatif.
Brussel disebut-sebut terbuka terhadap kesepakatan tarif universal 10% dengan AS. Beberapa investor melihat ini sebagai solusi kompromi yang bisa diterima pasar. Namun jika tarif kembali diberlakukan di angka 20% atau bahkan 50%, pasar bisa terguncang.
“Trump itu tidak bisa diprediksi, tapi kalau tarifnya hanya 10%, saya yakin pasar akan bereaksi sangat positif,” kata Carlo Franchini dari Banca Ifigest.