Kekerasan Meluas ke Kota Lain. Kekerasan tidak hanya terjadi di Ballymena dan Larne. Di Coleraine, bom molotov dilemparkan ke arah polisi, sementara laporan lain menyebutkan sebuah bus diserang, tempat sampah dibakar di rel kereta, dan sebuah bangunan usaha dilaporkan terbakar. Di Newtownabbey, kota yang juga dikenal sebagai titik rawan konflik sektarian, pemuda dilaporkan membakar puing-puing di bundaran jalan.
Polisi Irlandia Utara menyatakan total 41 petugas telah terluka sejak kekerasan dimulai. Tiga remaja telah didakwa terkait kerusuhan hari Selasa, dan enam orang lainnya ditahan. Serangkaian investigasi kini sedang berlangsung untuk mengusut insiden pembakaran rumah dan mobil di Ballymena sebagai kejahatan bermotif kebencian rasial.
Dua keluarga asal Filipina mengaku kepada Reuters bahwa mereka terpaksa melarikan diri dari rumah mereka setelah mobil mereka dibakar tepat di depan rumah. “Perilaku seperti ini sangat merusak dan menakutkan. Ini harus segera dihentikan,” tegas Menteri Irlandia Utara dari Inggris, Hilary Benn, kepada BBC.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih Jadi Senjata Ampuh Lawan Rentenir dan Pinjaman Online Ilegal
Konflik yang Belum Usai. Lebih dari dua dekade setelah perjanjian damai menghentikan konflik sektarian selama 30 tahun di wilayah yang dikuasai Inggris ini, insiden terbaru ini menunjukkan bahwa ketegangan etnis dan identitas masih bisa meletus dalam kekerasan brutal.
Pemerintah Inggris dan Irlandia, bersama tokoh-tokoh politik lokal, telah secara tegas mengutuk gelombang kekerasan ini dan menyerukan agar masyarakat kembali tenang serta menjunjung nilai keberagaman dan hukum.