BELGRADE,METROSELEBES COM-Dana Moneter Internasional (IMF) mengumumkan bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan tingkat staf (staff-level agreement) dengan Serbia terkait tinjauan pertama dalam kerangka kerja sama selama 36 bulan untuk mendukung reformasi ekonomi negara tersebut. Seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (11/06/2025).
Program ini merupakan bagian dari Instrumen Koordinasi Kebijakan (Policy Coordination Instrument/PCI) yang telah disepakati pada Oktober lalu. PCI bertujuan mempermudah Serbia dalam memperoleh pembiayaan dari sumber-sumber lain, sekaligus mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Dalam kerangka perjanjian ini, otoritas Serbia berkomitmen untuk mempertahankan defisit fiskal tidak lebih dari 3% dari produk domestik bruto (PDB) selama tiga tahun ke depan. Meski kesepakatan telah tercapai di tingkat staf, tinjauan ini masih harus mendapatkan persetujuan akhir dari Dewan Eksekutif IMF.
Namun, IMF juga memberikan peringatan terkait meningkatnya risiko bagi perekonomian Serbia. Lembaga keuangan internasional itu menyoroti ketegangan politik dalam negeri yang muncul akibat aksi protes anti-pemerintah dan pemblokiran universitas negeri yang dimulai sejak November tahun lalu. Ketegangan ini, menurut IMF, dapat menggerus kepercayaan publik dan pelaku pasar.
Baca Juga: Dari London ke Washington: Ketidakpastian Dagang Bayangi Laporan Inflasi AS
Gelombang unjuk rasa tersebut dipicu oleh insiden runtuhnya atap stasiun kereta api yang menewaskan 16 orang, yang kemudian memicu tuduhan adanya korupsi sistemik dan kelalaian dalam proyek-proyek infrastruktur pemerintah.
Selain faktor domestik, IMF juga menyoroti risiko global seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatnya fragmentasi geoekonomi, yang dinilai dapat berdampak negatif terhadap ekspor dan investasi asing langsung (FDI) Serbia.
Meskipun demikian, IMF tetap optimistis terhadap prospek ekonomi Serbia. Perekonomian negara Balkan tersebut diperkirakan akan tumbuh sebesar 3% pada tahun 2025 dan meningkat menjadi 4% pada 2026.
Baca Juga: Dari London ke Washington: Ketidakpastian Dagang Bayangi Laporan Inflasi AS