Distribusi Bantuan Berujung Kekacauan. Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung Amerika Serikat memulai operasi distribusi bantuan pangan pekan lalu untuk meredakan krisis kelaparan yang melanda 2,3 juta warga Gaza, sebagian besar di antaranya telah mengungsi akibat konflik. Namun, operasi yayasan ini mendapat kritik tajam dari PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya karena dianggap tidak mengikuti prinsip-prinsip kemanusiaan internasional.
Yayasan tersebut mengaku telah mendistribusikan 21 truk bantuan pada Selasa pagi dan menyatakan bahwa kekerasan terjadi di luar area distribusi mereka. "Insiden terjadi jauh di luar area aman dan kendali kami. Kami mengimbau warga sipil tetap berada di koridor aman saat menuju lokasi distribusi," jelas pernyataan resmi mereka.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Pelemahan Dolar AS
Beberapa warga yang berhasil memperoleh bantuan menggambarkan situasi yang kacau tanpa pengawasan yang memadai. "Ini benar-benar kekacauan dan penghinaan. Tapi kami tidak punya pilihan, tidak ada makanan lagi di Gaza," ujar salah satu warga yang selamat dari insiden penembakan.
Evakuasi Massal dan Ancaman Baru. Militer Israel pada Senin malam juga mengeluarkan perintah evakuasi baru untuk sejumlah distrik di Khan Younis, memerintahkan penduduk untuk bergerak ke arah barat menuju zona kemanusiaan di Mawasi. Militer memperingatkan akan mengambil tindakan keras terhadap militan di daerah tersebut. Namun, menurut pejabat Palestina dan PBB, tidak ada area yang benar-benar aman di Gaza.
Baca Juga: Kesepakatan Nuklir Baru AS-Iran Terancam Gagal Jika Celah Pengawasan IAEA Tak Ditutup
Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan bahwa perintah evakuasi ini dapat menghentikan operasional Rumah Sakit Nasser, yang merupakan fasilitas medis terbesar dan terakhir yang masih berfungsi di wilayah selatan.
Konflik Berlanjut, Harapan Gencatan Senjata Meredup. Israel melancarkan kampanye militernya di Gaza setelah serangan pada 7 Oktober 2023, ketika militan yang dipimpin Hamas membunuh sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya, menurut data Israel. Sejak itu, lebih dari 54.000 warga Palestina dilaporkan tewas, menurut otoritas kesehatan lokal.
Baca Juga: Meta dan Energi Nuklir: Langkah Besar Teknologi Dunia yang Bisa Jadi Contoh untuk Indonesia
Sementara itu, upaya internasional untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata kembali mengalami kebuntuan. Israel menyatakan menerima proposal gencatan senjata sementara yang didukung AS untuk membebaskan para sandera, namun Hamas bersikeras pada penghentian perang secara permanen dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.
Krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk di tengah kebuntuan politik dan militer yang tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.