Kendati demikian, Iran masih memberikan akses reguler kepada inspektur IAEA ke fasilitas-fasilitas utama sebagai bagian dari kewajiban mereka di bawah Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Namun, IAEA telah menyatakan mereka tidak dapat memberikan jaminan bahwa program nuklir Iran saat ini murni untuk tujuan damai.
IAEA dan negara-negara peserta kesepakatan kini didesak untuk membentuk "baseline" — potret lengkap dari program nuklir Iran saat ini. Namun, hal ini diprediksi akan sangat sulit mengingat banyaknya celah informasi yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Baca Juga: Pemilu atau Penghakiman? Rakyat Korea Selatan Menentukan Nasib Bangsa
Eric Brewer, mantan analis intelijen AS dan kini di Nuclear Threat Initiative, menyebut bahwa menyusun baseline ini akan menjadi elemen krusial dari kesepakatan baru. “Pertanyaannya adalah: apakah ketidakpastian itu dapat diterima oleh Amerika Serikat?” katanya.
Sementara itu, Kepala IAEA Rafael Grossi telah menyerukan pembatasan tegas yang "tidak dapat ditawar" untuk menjamin keamanan global, dan menekankan perlunya inspeksi yang sangat ketat. Namun hingga kini, belum ada kepastian apakah Iran bersedia memberikan tingkat transparansi yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan yang kredibel dan tahan lama.
Baca Juga: Breaking News: Longsor Terjadi di Tambang Poboya, Satu Orang Tewas dan Satu Luka-Luka
Dengan berjalannya negosiasi namun minimnya pengawasan yang kredibel, masa depan kesepakatan nuklir AS-Iran masih berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.