Ancaman Akselerasi Program Nuklir Iran. Para diplomat memperkirakan laporan ini dapat membuka jalan bagi rujukan Iran ke Dewan Keamanan PBB, meskipun langkah itu kemungkinan diambil dalam sidang mendatang, bukan yang akan digelar pada Juni ini. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi respons Iran—yang kerap mempercepat atau memperluas program nuklirnya setiap kali mendapat teguran dari IAEA.
Baca Juga: Kasus Varian Covid-19 Meningkat di Thailand Dan Singapura, Kemenkes RI Imbau Warga Tetap Waspada
Dalam laporan terpisah, IAEA juga mencatat bahwa stok uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60%—tingkat yang hampir mencapai kualitas senjata—telah meningkat sekitar 50% menjadi 408,6 kg. Jumlah itu cukup untuk diproses menjadi sembilan senjata nuklir, berdasarkan standar IAEA.
Respons Dunia: Desakan Tindakan Tegas. Israel segera menanggapi laporan tersebut. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa laporan IAEA menunjukkan Iran berniat menyelesaikan program senjata nuklirnya, dan menyerukan tindakan segera dari komunitas internasional.
Baca Juga: Mahkamah Agung AS Beri Kemenangan bagi Trump dalam Kebijakan Imigrasi, Meski Disertai Keraguan
Sementara itu, intelijen AS dan IAEA tetap berpandangan bahwa Iran pernah menjalankan program senjata nuklir terkoordinasi secara rahasia hingga 2003, meskipun Iran membantahnya.
Harapan dari Jalur Diplomasi. Di tengah meningkatnya ketegangan, muncul secercah harapan diplomatik. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengungkap bahwa rekannya dari Oman telah membawa elemen proposal baru dari AS untuk kesepakatan nuklir dalam kunjungan singkat ke Teheran.
Baca Juga: Sejumlah Universitas Top Inggris Tertarik Dirikan Kampus di Indonesia, Ini Kata Seskab Teddy..!
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, telah mengirimkan proposal rinci yang dianggap “dapat diterima” kepada pihak Iran. Namun, belum ada rincian lebih lanjut yang disampaikan.
Araqchi menyatakan di media sosial bahwa Iran akan menanggapi proposal tersebut berdasarkan “prinsip, kepentingan nasional, dan hak rakyat Iran.”
Putaran keenam pembicaraan antara Washington dan Teheran kini tengah dinanti, meskipun tanggal dan tempatnya belum diumumkan secara resmi.