Mirza juga menyoroti bahwa konflik terbaru ini tidak lagi terbatas pada wilayah sengketa Kashmir. Serangan terhadap instalasi militer juga terjadi di wilayah utama masing-masing negara, walaupun tidak ada pihak yang mengakui adanya kerusakan serius. Hal ini, menurutnya, menjadi "tren yang sangat berbahaya."
Diplomasi Tertutup dan Minim Komunikasi. Mirza mengungkapkan tidak ada pembicaraan rahasia atau pertemuan informal antara Pakistan dan India untuk meredakan ketegangan. Ia juga mengatakan tidak berencana bertemu dengan Jenderal Anil Chauhan, Kepala Staf Pertahanan India, yang juga menghadiri forum di Singapura.
Baca Juga: Yusril Bantah Isu Perundingan Rahasia RI–Israel Terkait OECD: Tak Pernah Ada Pertemuan
"Masalah-masalah ini hanya bisa diselesaikan melalui dialog dan konsultasi di meja perundingan. Tidak bisa diselesaikan di medan perang," tegas Mirza.
Kementerian Luar Negeri India, pada Kamis sebelumnya, menyatakan bahwa "pembicaraan dan teror tidak bisa berjalan bersama" ketika ditanya soal kemungkinan dialog dengan Pakistan. Pernyataan ini menandakan posisi India yang masih enggan membuka ruang komunikasi dengan tetangganya.
Intervensi Internasional: Waktu Semakin Sempit. Mirza juga mengingatkan bahwa peran mediasi internasional bisa semakin terbatas di masa depan, karena kurangnya mekanisme manajemen krisis antara kedua negara.
“Jendela waktu bagi komunitas internasional untuk campur tangan kini sangat sempit. Bahkan kerusakan bisa terjadi sebelum dunia sempat bertindak,” ujar Mirza, merujuk pada peran diplomasi diam-diam yang sebelumnya dilakukan oleh AS dalam meredam konflik.
Sejak merdeka dari Inggris pada 1947, India dan Pakistan telah berperang tiga kali – dua di antaranya mengenai Kashmir. Meski keduanya telah memiliki jalur komunikasi krisis militer, komunikasi antara kedua negara tetap sangat minim.
Dengan kondisi yang masih rapuh dan ketegangan yang mudah tersulut, dunia memandang penuh kekhawatiran atas relasi dua negara bertetangga ini. Jika tidak ditangani dengan serius, konflik berikutnya bisa jauh lebih berbahaya dan tidak lagi terbatas pada wilayah sengketa.