BEIJING/TAIPEI,METROSELEBES.COM-Ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan kembali meningkat setelah kedua pihak saling beradu argumen mengenai sejarah dan status kedaulatan Taiwan. Beijing bersikeras bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya dan menolak keras tudingan melakukan invasi, sementara Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan bahwa Taiwan adalah negara merdeka yang berhak menentukan masa depannya secara demokratis.
Baca Juga: Studi Ungkap: Strategi Pinjaman China Hambat Kemandirian Keuangan Negara Berkembang
Konflik narasi ini dipicu oleh serangkaian pidato Presiden Lai, yang sejak Minggu telah menyampaikan dua dari sepuluh pidato bertema "menyatukan negara". Dalam pidatonya, Lai menyatakan bahwa Taiwan "tentu saja adalah sebuah negara", dan menolak klaim historis maupun hukum dari Beijing atas pulau itu.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyampaikan keprihatinannya kepada para duta besar Eropa dalam pertemuan di Beijing pada Rabu. Ia menuduh partai penguasa Taiwan sedang berupaya mendorong kemerdekaan penuh, yang menurutnya sangat berbahaya. Wang juga mengutip Deklarasi Kairo 1943 dan Deklarasi Potsdam 1945, yang menurutnya menyatakan bahwa Taiwan harus dikembalikan kepada Tiongkok setelah berakhirnya pendudukan Jepang sejak 1895.
Baca Juga: Korea Utara Resmikan Zona Wisata Pantai Wonsan, Targetkan Jadi Destinasi Kelas Dunia
“Jadi, ini sangat jelas. Taiwan adalah bagian dari Tiongkok, dan pengembalian Taiwan merupakan salah satu hasil kemenangan dalam Perang Dunia Kedua,” tegas Wang.
Namun, pandangan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Taiwan. Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, menyebut Beijing sedang mencoba memelintir sejarah. “Perang melawan Jepang dipimpin dan dimenangkan oleh Republik Tiongkok, bukan oleh Republik Rakyat Tiongkok. Ini tidak bisa dibantah,” kata Koo saat berbicara di parlemen.
Sebagai bagian dari peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua, Beijing telah mengundang para veteran Republik Tiongkok untuk menghadiri parade militer pada awal September. Taiwan menolak keras partisipasi tersebut, menyebutnya sebagai taktik politik untuk mengaburkan sejarah.
Baca Juga: Wall Street Beragam: Nasdaq Naik, Dow Melemah di Tengah Damainya Timur Tengah dan Fokus pada Powell
Sementara itu, militer Tiongkok terus menunjukkan tekanan dengan latihan rutin di sekitar Taiwan. Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa puluhan jet tempur dan kapal perang Tiongkok kerap beroperasi di sekitar pulau tersebut setiap hari. Latihan terakhir berskala besar dilakukan pada April.
Artikel Terkait
Asta Cita Jadi Kompas Pembangunan Desa: Mendes Yandri Tekankan Sinergi Daerah
Transparansi Tanpa Celah: Mensos Ajak Rakyat Awasi Bansos Lewat Jalur Digital
Sanur Menuju Pusat Kesehatan Asia: KEK Kesehatan dan BIH Resmi Diluncurkan
Rutte Sebut Trump seperti "Ayah di Tengah Perkelahian Anak Sekolah", Puji Peran Kunci dalam Perdamaian Iran-Israel
Trump Isyaratkan Pelonggaran Sanksi Minyak Iran Demi Pemulihan Ekonomi Teheran
Wall Street Beragam: Nasdaq Naik, Dow Melemah di Tengah Damainya Timur Tengah dan Fokus pada Powell
Korea Utara Resmikan Zona Wisata Pantai Wonsan, Targetkan Jadi Destinasi Kelas Dunia
Enam Pejabat Polda Sulteng Dimutasi, Ini Daftar Lengkapnya
Studi Ungkap: Strategi Pinjaman China Hambat Kemandirian Keuangan Negara Berkembang
Jokowi Disebut Tak Jadi Maju Jadi Caketum PSI, Kaesang: Masa Anak Sama Bapak Saingan