Baca Juga: Xiaomi Luncurkan Produksi Massal Chip Xring O1: Siap Tanding di Dunia Semikonduktor
Trump, yang kembali menjabat sebagai Presiden sejak awal 2025, dikenal sebagai penentang keras kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan kekuatan dunia. Pada masa jabatan pertamanya (2017–2021), ia menarik AS dari perjanjian tersebut dan kembali memberlakukan sanksi keras terhadap Iran. Sebagai respons, Iran meningkatkan level pengayaan uraniumnya.
Baca Juga: Menkeu Jepang: Pertemuan dengan AS Akan Fokus pada Stabilitas Nilai Tukar
Dengan ketegangan yang terus meningkat, masa depan perundingan nuklir Iran dan Amerika Serikat tampak semakin suram. Kedua belah pihak kini berada di persimpangan jalan yang menentukan arah kebijakan nuklir dan stabilitas kawasan di tahun-tahun mendatang.