YAMAN,METROSELEBES.COM–Setelah lebih dari tujuh minggu serangan udara intensif dari Amerika Serikat, kelompok Houthi akhirnya menunjukkan sinyal ingin keluar dari konflik. Langkah ini berujung pada gencatan senjata tak terduga yang diumumkan pada 6 Mei 2025—sebuah kesepakatan yang menurut para pejabat AS tidak pernah mereka perkirakan akan terjadi dalam waktu dekat.
Baca Juga: PM Modi: Masa Depan Pakistan Terancam Jika Terorisme Terus Didukung
Empat pejabat Amerika mengungkap bahwa intelijen AS mulai menangkap komunikasi internal kelompok Houthi yang mengindikasikan mereka ingin mencari "jalan keluar" dari tekanan militer. Para pemimpin Houthi, yang selama ini menentang serangan AS dengan keras, mulai menjalin komunikasi dengan sekutu-sekutu AS di kawasan Timur Tengah pada awal Mei.
Baca Juga: Hakim AS Restui Trump Pakai Undang-Undang Kuno untuk Usir Anggota Geng
“Sinyalnya jelas: mereka sudah mulai lelah,” kata salah satu pejabat AS yang enggan disebut namanya karena informasi ini tergolong sensitif.
Sejak November 2023, Houthi telah melancarkan ratusan serangan drone dan rudal terhadap kapal-kapal di Laut Merah, dengan dalih solidaritas terhadap Palestina atas konflik Gaza. Mereka mengklaim hanya menargetkan kapal yang memiliki keterkaitan dengan Israel.
Namun, kampanye militer Amerika yang dimulai pada Maret 2025, dengan lebih dari 1.100 serangan udara dan biaya yang melampaui $1 miliar, mulai melumpuhkan infrastruktur militer Houthi, termasuk gudang rudal, fasilitas komando, serta sumber pendapatan utama mereka. Serangan paling mematikan terjadi pada 17 April di terminal bahan bakar Ras Isa, yang menyebabkan 74 orang tewas, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Houthi.
Baca Juga: Trump Tawarkan Diri Jadi Penengah Sengketa Kashmir, India Belum Memberi Jawaban
Salah satu pejabat pertahanan menyebut serangan ini sebagai pukulan ekonomi dan strategis yang mengguncang kemampuan operasional Houthi.