China Dorong Inovasi dan Kewaspadaan dalam Teknologi Mengemudi Cerdas Setelah Insiden Maut Xiaomi

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Senin, 7 Juli 2025 | 09:48 WIB
Seorang pengunjung mencoba sedan listrik SU7 yang dipamerkan di toko Xiaomi di Beijing, Tiongkok, pada 29 Mei 2025. Source FOTO: REUTERS
Seorang pengunjung mencoba sedan listrik SU7 yang dipamerkan di toko Xiaomi di Beijing, Tiongkok, pada 29 Mei 2025. Source FOTO: REUTERS

BEIJING,METROSELEBES.COM-China sedang mempercepat pengembangan teknologi mengemudi berbantuan (assisted-driving), mendorong para produsen otomotif lokal untuk melangkah cepat dalam persaingan global. Namun, pemerintah juga mengingatkan agar langkah agresif ini tetap dibarengi dengan kehati-hatian, terutama setelah terjadinya kecelakaan tragis yang melibatkan sedan listrik Xiaomi SU7 pada Maret lalu. Seperti dikutip dari Reuters pada Senin (07/07/2025).

Baca Juga: Trump Serang Elon Musk: Partai Baru ‘Konyol’, Penunjukan NASA Bermasalah, dan Ancaman Cabut Kontrak Tesla

Kecelakaan itu merenggut tiga nyawa hanya beberapa detik setelah pengemudi mengambil alih kendali dari sistem mengemudi otomatis. Sejak insiden itu, regulator Tiongkok tengah merampungkan peraturan keselamatan baru untuk sistem bantuan mengemudi, dengan fokus utama pada desain perangkat keras dan lunak yang mampu memantau kesadaran dan kesiapan pengemudi untuk mengambil kendali kendaraan saat dibutuhkan.

 

Inovasi Cepat, Tapi Terkendali

 

Meski ingin memastikan keselamatan, pemerintah Tiongkok tidak ingin momentum inovasi melambat. Pendekatan “bergerak cepat tapi berhati-hati” ini dinilai memberi keunggulan kompetitif terhadap pesaing global, terutama dari Amerika Serikat dan Eropa, yang dinilai masih lambat menetapkan kerangka regulasi teknologi kendaraan otonom.

Baca Juga: Khamenei Muncul di Hadapan Publik Usai Perang Udara Iran-Israel, Tegaskan Iran Tak Akan Menyerah

"China mengikuti filosofi Deng Xiaoping, ‘merasakan batu untuk menyeberangi sungai’—melangkah hati-hati dalam ketidakpastian teknologi. Dan itu terbukti sukses," ujar Markus Muessig dari Accenture Greater China.

 

Tiongkok juga melarang penggunaan istilah pemasaran seperti “smart” dan “autonomous” yang dianggap dapat menyesatkan konsumen mengenai kemampuan sistem Level 2, yaitu sistem yang dapat mengemudi secara otomatis dalam kondisi tertentu, tetapi masih memerlukan keterlibatan aktif dari pengemudi.

 

Persiapan Menuju Level 3

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X