Abu Zayd Al-Balkhi: Perintis Psikologi Islam yang Menyelami Jiwa Manusia Sejak Abad ke-9

photo author
REDAKSI, Metro Selebes
- Rabu, 6 Agustus 2025 | 08:26 WIB
Pemikir Muslim, Abu Zayd Al-Balkhi yang menyelami pentingnya kesehatan mental sejak abad ke-9 Masehi. ( Foto : X.com/@midhfulhue)
Pemikir Muslim, Abu Zayd Al-Balkhi yang menyelami pentingnya kesehatan mental sejak abad ke-9 Masehi. ( Foto : X.com/@midhfulhue)

METROSELEBES.COM – Di saat dunia modern baru menaruh perhatian serius terhadap kesehatan mental dalam beberapa dekade terakhir, seorang cendekiawan Muslim dari abad ke-9 telah lebih dulu menyelami kompleksitas jiwa manusia dengan pendekatan yang mencengangkan untuk masanya.

Dialah Abu Zayd Al-Balkhi, sosok jenius dari Balkh (kini Afghanistan) yang tak hanya menguasai beragam ilmu, tapi juga menjadi pelopor dalam memahami keterkaitan antara tubuh dan jiwa.

Baca Juga: Isu Ahmad Muzani Gantikan Tito Karnavian, Mensesneg: Nggak Masuk Secara Logika

Lahir pada tahun 850 M di daerah Shamistiyan, Al-Balkhi tumbuh dalam atmosfer intelektual dunia Islam yang tengah berada di puncak keemasannya. Ia menimba ilmu di Irak, termasuk kepada salah satu filsuf besar Islam, Abu Yusuf al-Kindi, yang banyak memengaruhi pola pikir dan pendekatan ilmiahnya.

Namun kontribusi Al-Balkhi yang paling menakjubkan adalah dalam bidang yang kini kita kenal sebagai psikologi. Dalam karya monumentalnya Masalih al-Abdan wa al-Anfus (Pemeliharaan Tubuh dan Jiwa), Al-Balkhi menjelaskan secara gamblang pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental.

Ia menegaskan bahwa seseorang tidak bisa dikatakan sehat secara utuh jika tubuh dan jiwanya tidak berada dalam harmoni.

Baca Juga: 6 Syarat Wajib Kopdes untuk Dapat Pinjaman Bank Himbara Berdasarkan PMK 49 tahun 2025

Yang luar biasa, jauh sebelum istilah “kesehatan mental” dipopulerkan di Barat, Al-Balkhi telah memperkenalkan konsep al-Tibb al-Ruhani (pengobatan jiwa) dan Tibb al-Qalb (pengobatan hati).

Dalam pemikirannya, gangguan psikologis dibagi menjadi empat kelompok utama: rasa takut dan kecemasan, kemarahan dan agresi, kesedihan dan depresi, serta obsesi. Ia memahami bahwa gejala-gejala ini tidak hanya berasal dari kondisi fisik semata, melainkan juga dari luka batin dan tekanan emosional.

Ia bahkan mengkritik keras para tabib di masanya yang hanya fokus pada penyakit jasmani, dengan menulis:

"Karena manusia tersusun dari jiwa dan tubuh, maka kesehatan sejati tidak akan terwujud tanpa keduanya berjalan selaras."

Baca Juga: Bank BRI dan Mandiri Pastikan Dana Nasabah Aman di Tengah Penataan Rekening Dormant

Sebagai seorang Muslim taat, Al-Balkhi juga merujuk pada ajaran Islam dalam membangun kerangka berpikirnya. Ia mengutip ayat suci seperti “Dalam hati mereka ada penyakit” (QS 2:10), serta hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut hati sebagai pusat kebaikan dan keburukan. Baginya, kesehatan hati—baik secara spiritual maupun psikologis—adalah fondasi bagi kemanusiaan yang utuh.

Sayangnya, nama Al-Balkhi tidak banyak dikenal di luar lingkaran akademisi Muslim. Padahal, pemikirannya tentang kesehatan mental bukan hanya mendahului zamannya, tetapi juga menawarkan perspektif yang sangat relevan di era modern ini—di saat krisis kesehatan mental menjadi isu global.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mahful Haruna

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Prabowo Tegaskan Komitmen Rakyat dan Keamanan Nasional

Selasa, 2 September 2025 | 19:20 WIB
X