Meski konflik telah mereda, kesepakatan jangka panjang terkait program nuklir Iran masih menjadi syarat utama untuk mencabut sanksi internasional. Iran tetap membantah ingin membuat senjata nuklir, tuduhan yang telah diarahkan oleh negara-negara Barat selama puluhan tahun.
Rafael Grossi, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menyatakan prioritasnya saat ini adalah memastikan inspektur internasional bisa kembali mengakses fasilitas nuklir Iran. “Pengetahuan teknologi dan kapasitas industrinya masih ada. Itu tidak bisa disangkal. Jadi kita perlu bekerja sama,” tegasnya.
Baca Juga: Tahun Ajaran Baru 2025, Sekolah Rakyat Siap Dimulai 14 Juli
Namun, laporan media pemerintah Iran menyebut parlemen telah mengesahkan undang-undang untuk menangguhkan kerja sama dengan IAEA — langkah yang masih membutuhkan persetujuan Dewan Keamanan Nasional tertinggi Iran.
Sementara itu, utusan Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menyatakan bahwa pembicaraan antara AS dan Iran sejauh ini “menjanjikan” dan Washington berharap untuk “kesepakatan damai jangka panjang yang membangkitkan kembali Iran”.
Baca Juga: DPR Siap Kawal Tahun Sidang 2024–2025: Fokus Pengangguran, Haji 2025, dan Aturan Ojek Online
Kesimpulan: Damai yang Rapuh
Meski gencatan senjata telah membawa jeda yang melegakan, tantangan besar masih membayangi masa depan Iran, Israel, dan stabilitas kawasan. Bagi Presiden Trump, kemenangan diplomatik ini bisa menjadi kartu politik penting. Namun, seperti yang ditegaskan banyak pengamat, damai tanpa fondasi yang kokoh hanyalah ketenangan sebelum badai berikutnya.