Qatar, salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, juga mengirim hampir seluruh ekspornya melalui Selat Hormuz.
Untuk melindungi lalu lintas maritim di wilayah ini, Armada Kelima Angkatan Laut AS yang bermarkas di Bahrain terus beroperasi secara aktif.
Sejarah Ketegangan di Sekitar Selat Hormuz
Ketegangan di wilayah ini bukan hal baru. Pada tahun 1973, negara-negara produsen minyak Arab yang dipimpin Arab Saudi memberlakukan embargo minyak terhadap negara-negara Barat pendukung Israel dalam perang dengan Mesir. Ketergantungan dunia Barat terhadap minyak Timur Tengah saat itu sangat tinggi. Kini, pasar utama minyak OPEC telah bergeser ke Asia.
Baca Juga: Prabowo Bawa Indonesia Naik Kelas di Forum Global, Diplomasi Ekonomi dan Perdamaian Dipuji Dunia
Pada Januari 2012, Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas sanksi dari AS dan Eropa. Ketegangan kembali meningkat pada Mei 2019 ketika empat kapal, termasuk dua tanker minyak milik Arab Saudi, diserang di dekat pesisir UEA, di luar wilayah selat.
Dalam dua tahun terakhir, ketegangan kembali terasa ketika tiga kapal tanker—dua pada tahun 2023 dan satu pada 2024—disita oleh Iran di dalam atau dekat Selat Hormuz. Beberapa insiden ini diduga sebagai balasan atas penyitaan kapal tanker Iran oleh pihak AS.
Dengan ketergantungan global terhadap pasokan energi yang masih tinggi dan kondisi geopolitik yang terus bergejolak, Selat Hormuz tetap menjadi titik panas strategis dunia. Setiap gangguan di kawasan ini tidak hanya berdampak pada negara-negara Teluk, tetapi juga pada stabilitas energi global secara keseluruhan. Dunia kini menanti apakah Iran akan benar-benar mengambil langkah drastis yang dapat mengguncang pasar minyak internasional.