Kamboja pada hari Minggu sebelumnya telah mengajukan permintaan resmi kepada Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan sengketa tersebut, sebuah langkah yang ditolak oleh Thailand karena tidak mengakui yurisdiksi pengadilan itu atas perkara ini.
Pada Rabu, Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh militer Thailand kembali melanggar kedaulatan mereka melalui penerbangan drone, penggalian parit, dan pengerahan pasukan tambahan. Tuduhan ini langsung dibantah oleh Bangkok.
Di sisi lain, Letnan Jenderal Boonsin Padklang—komandan Wilayah Militer Kedua Thailand yang bertanggung jawab atas perbatasan timur—mengaku telah menerima penjelasan dari Paetongtarn terkait isi pembicaraan dalam rekaman. “Saya tidak ada masalah, saya mengerti,” katanya kepada media lokal.
Baca Juga: Terobosan Gaji Hakim Muda: Prabowo Naikkan Hingga 280%, Fondasi Baru Keadilan Indonesia
Ketegangan ini diperparah oleh sejarah panjang ketegangan antara keluarga Shinawatra dan militer Thailand. Dua pemerintahan sebelumnya yang dipimpin oleh anggota keluarga ini telah digulingkan oleh kudeta militer masing-masing pada tahun 2006 dan 2014.
Hubungan hangat antara Hun Sen dan Thaksin Shinawatra, ayah Paetongtarn sekaligus mantan perdana menteri Thailand, sebelumnya menjadi jembatan diplomatik yang mempererat kedua negara. Namun bocoran ini kini mengancam stabilitas hubungan tersebut.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah, ribuan warga Kamboja turun ke jalan dalam sebuah pawai besar yang digelar negara di Phnom Penh pada Rabu. Mereka membawa bendera nasional, poster bergambar Hun Sen dan Hun Manet, serta meneriakkan slogan patriotik. “Tanah Kamboja! Kami tidak akan mengambil tanah orang lain, kami mempertahankan milik kami!” seru para demonstran.
Dengan meningkatnya retorika nasionalis dan ketegangan militer, kawasan perbatasan Thailand-Kamboja kini kembali menjadi titik panas di Asia Tenggara yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan jika tidak segera diredam melalui jalur diplomatik.