NEW YORK,METROSELEBES.COM-Bursa saham Amerika Serikat dibuka melemah pada awal Juni, mengikuti penurunan pasar saham global seiring meningkatnya ketegangan dagang antara Washington dan Beijing. Ketidakpastian jelang rilis data ketenagakerjaan AS dan ekspektasi penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa turut menambah tekanan terhadap sentimen investor.
Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average mencatat pelemahan moderat, sementara Nasdaq nyaris tak bergerak. Dolar AS ikut tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran terkait arah kebijakan dagang Presiden Donald Trump, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS naik tipis.
Pada Minggu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa Presiden Trump akan segera berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping guna meredakan ketegangan terkait kesepakatan pengurangan tarif atas mineral penting. Trump sebelumnya menuduh Beijing melanggar kesepakatan tersebut, tuduhan yang dibantah keras oleh pihak Tiongkok yang menyebutnya tidak berdasar dan berjanji akan membela kepentingannya dengan tegas.
Baca Juga: Trump Naikkan Tarif Baja, Korea dan Vietnam Kena Getahnya?
"Pasar merespons negatif karena ketidakpastian ini nyata. Investor bingung harus melangkah ke mana," ujar Oliver Pursche, Wakil Presiden Senior di Wealthspire Advisors, New York. Ia menambahkan bahwa karakter Trump yang sulit diprediksi menambah ketegangan. "Akronim seperti TACO (Trump Always Chickens Out) membuatnya marah, dan itu bisa berdampak pada keputusan kebijakan."
Dari sisi ekonomi, data dari Institute for Supply Management menunjukkan sektor manufaktur AS menyusut lebih dalam dari perkiraan pada Mei. Sementara itu, belanja konstruksi secara mengejutkan turun di bulan April.
Di pasar saham, Dow Jones turun 211,67 poin (0,50%) ke level 42.058,40. S&P 500 melemah 15,20 poin (0,26%) ke 5.896,49 dan Nasdaq terkoreksi 12,94 poin (0,07%) menjadi 19.100,83.
Pasar Eropa juga tertekan setelah Trump mengumumkan rencana menggandakan tarif baja dan aluminium impor menjadi 50% mulai 4 Juni. Langkah tersebut langsung memicu ancaman balasan dari Uni Eropa dan menyeret harga saham eksportir baja turun.
Baca Juga: Lumbung Ekonomi Nasional: Pertanian Kuasai Pertumbuhan dan Lapangan Kerja di 2025