"Wilayah ini akan mengamati dengan seksama apakah Hegseth yang muncul di Shangri-La adalah yang bersahabat seperti saat di Jepang dan Filipina, atau yang lebih keras seperti yang terlihat saat ia berada di Eropa," ujar Ely Ratner, mantan pejabat tinggi Pentagon untuk urusan Tiongkok di era pemerintahan Biden.
Baca Juga: Pelajar Korea Selatan Diperiksa Ketat oleh Pemerintahan Trump: Media Sosial Jadi Sorotan
Reaksi Beragam dari Sekutu dan Lawan Politik. Sikap Hegseth terhadap Eropa juga telah memicu keresahan. Dalam konferensi pers di markas NATO Februari lalu, ia memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak memperlakukan AS sebagai "pelayan", pernyataan yang dianggap mengganggu aliansi lama.
Meski demikian, analis dari Center for Strategic and International Studies, Greg Poling, menilai negara-negara Asia—terutama Filipina—cenderung lebih optimistis terhadap arah kebijakan Hegseth.
Baca Juga: Apa Maksud China Kirim Puluhan Kapal Perang ke Asia Timur?
“Sekutu Asia merasa lebih diperhatikan dibandingkan sekutu Eropa saat ini, namun tetap ada kekhawatiran tentang konsistensi,” katanya.
Sementara itu, Senator Demokrat Tammy Duckworth, yang turut memimpin delegasi bipartisan AS ke Shangri-La Dialogue, menyampaikan skeptisisme terhadap kemampuan Hegseth dalam menyampaikan pesan komitmen AS kepada Asia.
Baca Juga: Apa Maksud China Kirim Puluhan Kapal Perang ke Asia Timur?
“Dia hanya berada di posisi ini karena kedekatannya dengan Trump dan tampil menarik di televisi. Saya tidak yakin dia mampu meyakinkan sekutu kita di Asia,” ujar Duckworth kepada Reuters.
Ujian Global Pertama. Shangri-La Dialogue tahun ini juga akan dihadiri oleh Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS yang baru dikukuhkan, serta para pejabat tinggi pertahanan dari berbagai negara. Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan memberikan pidato utama pembukaan pada Jumat.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih Tembus 60 Ribu Unit, Bukti Gotong Royong Bangun Ekonomi Desa
Bagi Pete Hegseth, forum ini bukan sekadar ajang diplomatik, tetapi juga ujian besar pertamanya di panggung global. Apakah ia akan mampu menyeimbangkan antara retorika domestik yang tajam dan kebutuhan akan diplomasi strategis lintas negara?