Ahli hukum internasional dari Duke University, Tim Meyer, menambahkan bahwa dalam praktiknya, pengadilan belum sepenuhnya jelas apakah bisa meninjau tindakan presiden yang berdasar pada IEEPA. Jika Trump menang dalam gugatan hukum terkait tarif yang saat ini sedang berjalan di pengadilan perdagangan internasional di Manhattan, maka ia bisa dengan mudah menggunakan alasan darurat untuk menargetkan Apple.
Baca Juga: Tak Ada Tempat Aman: Rusia Lancarkan Serangan Terkoordinasi ke Jantung Ukraina
Namun dari sisi ekonomi, langkah ini dinilai tidak masuk akal. Menurut Dan Ives, analis dari Wedbush, memindahkan produksi iPhone ke Amerika Serikat bisa memakan waktu hingga satu dekade dan berpotensi membuat harga iPhone melonjak hingga $3.500 per unit — hampir tiga kali lipat dari harga saat ini yang berkisar $1.200.
“Gagasan bahwa Apple akan memproduksi iPhone di AS adalah dongeng yang tidak realistis,” ujar Ives.
Baca Juga: Trump Ancam Naikkan Tarif Impor dan Cabut Izin Mahasiswa Internasional Harvard
Bahkan tanpa relokasi penuh, tarif 25% akan menambah tekanan pada rantai pasok Apple dan meningkatkan biaya pembiayaan, yang pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen.
“Tidak ada sisi positif bagi konsumen Amerika dari kebijakan ini,” kata Brett House, profesor ekonomi dari Universitas Columbia.
Baca Juga: Ancaman Tarif Baru Trump Guncang Wall Street, Indeks Saham Terpeleset
Dengan berbagai kendala teknis, hukum, dan ekonomi, upaya untuk menghadirkan iPhone buatan AS tampaknya masih jauh dari kenyataan — dan bisa menjadi sangat mahal bagi semua pihak yang terlibat.