internasional

US$20 Miliar Melayang Akibat Cuaca Ekstrem, Industri Asuransi Asia dan Indonesia Tertekan Berat

Sabtu, 17 Mei 2025 | 08:29 WIB
Foto Ilustrasi. Industri asuransi Asia mengalami disrupsi akibat kerugian ekonomi di 2024. (Foto : Pixabay/Oleg Gamulinski)

Baca Juga: Bagaimana Langkah Pemerintah Desa dan BPD dalam Mewujudkan Koperasi Merah Putih sebagai Pilar Kemandirian Ekonomi Desa? ini caranya

“Hasil underwriting menjadi kunci utama. Bila hasilnya merosot, maka laba perusahaan juga ikut terdampak. Belum lagi tekanan dari sisi investasi,” ujar Budi dalam konferensi pers kinerja AAUI di Jakarta, Rabu, 5 Maret 2025.

Dari sisi underwriting, industri mencatatkan defisit Rp1,52 triliun pada 2024, berbanding terbalik dengan surplus Rp19,46 triliun pada 2023.

Tekanan semakin berat dengan lonjakan cadangan premi dari Rp3,44 triliun menjadi Rp22,27 triliun, serta cadangan klaim dari Rp1,25 triliun menjadi Rp5,08 triliun.

Kondisi ini menjadi alarm keras bagi industri asuransi nasional untuk memperkuat strategi mitigasi risiko, memperluas edukasi publik, dan mendorong sinergi pemerintah dalam memperkuat ketahanan terhadap dampak krisis iklim yang makin nyata. ***

Halaman:

Tags

Terkini