Taktik Baru ICE Dikecam: Target Penangkapan Harian Tiga Kali Lipat, Warga Tak Berdokumen Jadi Sasaran Acak

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Rabu, 11 Juni 2025 | 12:37 WIB
Seorang migran dan seorang pengamat hukum terbaring di lantai saat mereka ditahan oleh petugas imigrasi federal di pengadilan imigrasi AS di Manhattan, New York City, AS, pada 6 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS
Seorang migran dan seorang pengamat hukum terbaring di lantai saat mereka ditahan oleh petugas imigrasi federal di pengadilan imigrasi AS di Manhattan, New York City, AS, pada 6 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS

 

Deportasi di Tengah Kerja Sama. Di Ohio, protes terjadi usai Emerson Colindres (19), lulusan SMA asal Honduras yang telah tinggal di AS sejak usia delapan tahun, ditahan setelah menerima pesan teks dari ICE untuk datang ke kantor. Ia adalah peserta program “alternatif penahanan” yang memantau imigran melalui gelang kaki dan panggilan telepon.

Baca Juga: Dua Malam Berturut-turut Rusuh di Ballymena: Polisi Diserang, Rumah Dibakar, Pemerintah Kutuk Kekerasan

Meski telah diperintahkan dideportasi setelah klaim suaka keluarganya ditolak, Colindres secara rutin hadir dalam check-in dan memiliki permohonan visa yang masih diproses. “Mereka ingin mendeportasinya, padahal dia bahkan tidak mengenal negara asalnya,” ujar ibunya, Ada Baquedano.

 

Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) membela keputusan tersebut, menyatakan bahwa terlalu banyak imigran dengan perintah deportasi akhir hanya ditempatkan dalam pengawasan tanpa penahanan.

 

Kritik dan Ketakutan di Masyarakat. Para pegiat imigrasi dan anggota Partai Demokrat menyebut langkah ICE sebagai pendekatan yang membabi buta dan menciptakan iklim ketakutan di komunitas. Gelatt menambahkan bahwa menangkap orang yang kooperatif dalam program pengawasan justru berisiko mahal dan tidak efisien.

Baca Juga: Dua Malam Berturut-turut Rusuh di Ballymena: Polisi Diserang, Rumah Dibakar, Pemerintah Kutuk Kekerasan

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Abigail Jackson menegaskan kembali komitmen Presiden Trump. “Jika Anda berada di Amerika Serikat secara ilegal, Anda akan dideportasi. Ini adalah janji Presiden kepada rakyat Amerika, dan kami akan menepatinya,” ujarnya.

 

Dengan strategi baru ini, pemerintahan Trump menegaskan prioritasnya pada penegakan hukum yang keras, tetapi kritik terus berdatangan mengenai dampak sosial, hukum, dan moral dari kebijakan yang semakin luas dan tanpa pandang bulu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X