JAKARTA, METROSELEBES.COM - Pemerintah Indonesia resmi memulai langkah besar dalam upaya menghadapi ancaman krisis iklim dengan memulai pembangunan Benteng Raksasa Pantura atau Giant Sea Wall.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memimpin langsung Rapat Terbatas bersama para Menteri Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, pada 10 Juni 2025.
Fokus utama pertemuan adalah percepatan pembangunan tanggul laut raksasa di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa.
Presiden menegaskan, pembangunan Giant Sea Wall merupakan solusi strategis jangka panjang untuk melindungi pesisir utara dari dampak abrasi, banjir rob, serta kenaikan permukaan air laut yang kian mengkhawatirkan akibat perubahan iklim global.
Baca Juga: Tragedi Berdarah di Sekolah Graz: Mantan Siswa Tewaskan 10 Orang dan Bunuh Diri
“Pembangunan benteng raksasa ini bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mendesak demi melindungi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Presiden.
Ancaman Abrasi yang Makin Mendesak
Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengungkapkan, wilayah seperti Semarang, Demak, Pekalongan, dan Jakarta Utara mengalami penurunan tanah hingga 10-15 cm per tahun.
Jika dibiarkan, wilayah-wilayah tersebut diprediksi berisiko tenggelam dalam 20-30 tahun ke depan.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa permukaan air laut terus naik 0,8-1,2 cm per tahun.
Tanpa adanya Giant Sea Wall, jutaan warga pesisir terancam kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, dan sumber penghidupan.
Baca Juga: IZIN TAMBANG DI TIPO DICABUT SELAMANYA, GUBERNUR: INI KEPUTUSAN HATI NURANI
Menjaga Ketahanan Lingkungan dan Ekonomi
Selain menahan abrasi, proyek Benteng Raksasa Pantura ini akan memperkuat ketahanan lingkungan. Sistem pengelolaan air terpadu yang terintegrasi akan mencegah masuknya air laut ke daratan, melindungi lahan pertanian, serta memastikan ketersediaan air bersih.
Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, Giant Sea Wall juga akan membuka potensi ekonomi baru melalui pengembangan kawasan pesisir modern, industri kelautan, dan sektor pariwisata bahari.
Artikel Terkait
Eks Menteri Kelautan Era SBY Jadi Sosok di Balik Izin Tambang PT KSM yang Dicabut Prabowo
Sekkot Kota Palu Hadiri Sosialisasi Peluang Kerja Luar Negeri Bersama Menteri P2MI
Garuda Tempur Tanpa Sayap: Timnas Indonesia Tampil Pincang Hadapi Jepang"
Sidang Pemakzulan Sara Duterte Dimulai: Masa Depan Politik Filipina di Titik Kritis
Ancaman Kelaparan Membayangi Wilayah Selatan Khartoum, PBB Peringatkan Krisis Makin Parah
Garuda Eropa Siap Tempur: Debut Pemain Keturunan Warnai Duel Sengit Kontra Jepang
Padi Nusantara: Potret Kejayaan 5 Provinsi dalam Menopang Ketahanan Pangan Indonesia
Hujan Gol Samurai Biru: Jepang Hancurkan Indonesia 6-0 dalam Duel Tanpa Ampun di Grup C
IZIN TAMBANG DI TIPO DICABUT SELAMANYA, GUBERNUR: "INI KEPUTUSAN HATI NURANI"
Tragedi Berdarah di Sekolah Graz: Mantan Siswa Tewaskan 10 Orang dan Bunuh Diri