WASHINGTON, METROSELEBES.COM-Presiden AS ke-45, Donald Trump, kembali menciptakan kontroversi dengan mengumumkan rencana tarif 100% terhadap film yang diproduksi di luar negeri. Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa ketergantungan industri film Amerika pada lokasi syuting asing merupakan "ancaman terhadap keamanan nasional", sebuah alasan yang dianggap mengada-ada oleh banyak pengamat budaya dan ekonomi.
Langkah ini, yang menurut Trump bertujuan menghidupkan kembali industri film domestik, justru dipandang sebagai bentuk proteksionisme berbalut sentimen anti-asing. Banyak analis menilai bahwa kebijakan tersebut tidak hanya menunjukkan ketidaktahuan Trump terhadap dinamika industri hiburan global, tetapi juga mencerminkan pola pikir sempit yang memandang produksi budaya asing sebagai sesuatu yang mencurigakan.
“Industri film global tidak bekerja dalam ruang tertutup,” ujar Megan Foster, seorang analis media di Georgetown Institute. “Film besar, termasuk yang diproduksi oleh studio Amerika, telah lama memanfaatkan lokasi internasional karena berbagai alasan — efisiensi anggaran, kebutuhan cerita, hingga daya tarik visual yang tidak dimiliki lokasi domestik.”
Baca Juga: TRUMP DAN PM CARNEY GELAR PERTEMUAN PENTING DI GEDUNG PUTIH, TEGANGAN DIPERKIRAKAN TINGGI
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak film blockbuster Hollywood memang memilih untuk syuting di negara lain karena insentif pajak, fasilitas produksi modern, serta lanskap yang unik. Negara seperti Kanada, Selandia Baru, Inggris, hingga Korea Selatan menjadi tujuan populer untuk produksi film dan serial televisi. Bahkan film-film Marvel yang sangat sukses sebagian besar dibuat di luar Los Angeles, dengan Atlanta menjadi pusat produksi utama di AS berkat kebijakan pajak yang progresif.
Namun Trump tampaknya mengabaikan realitas ini. Dalam pidatonya, ia tidak membedakan antara film asing yang diimpor dan film AS yang diproduksi di luar negeri. Kekhawatiran muncul bahwa kebijakan ini bisa berdampak luas: membatasi pilihan penonton, menekan kolaborasi internasional, serta mempersulit studio independen yang sudah menghadapi tantangan besar di tengah persaingan digital.
Baca Juga: CHINA & DUNIA KENA IMBAS: TRUMP TEMBAKKAN TARIF BARU UNTUK FILM
“Ini bukan hanya tentang bisnis, ini tentang pandangan dunia,” kata sutradara independen Martin Reyes. “Mengisolasi industri film dari dunia luar karena sentimen nasionalistik hanya akan merugikan Amerika sendiri. Seni tidak mengenal batas negara, dan penonton global ingin melihat keberagaman, bukan hanya satu versi dari dunia.”
Kritik juga datang dari pelaku industri yang menilai bahwa Trump kembali menggunakan retorika anti-globalisasi untuk mengangkat basis pendukungnya. Dengan membingkai produksi film luar negeri sebagai “tidak patriotik”, Trump tampak menyulut ketakutan yang tidak berdasar terhadap keterlibatan asing dalam budaya populer Amerika.
Baca Juga: Tarif 100% Film Luar Negeri: Peluang atau Ancaman bagi Perfilman Indonesia?