JOHANNESBURG,METROSELEBES.COM-Kunjungan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa ke Gedung Putih yang semula diharapkan menjadi titik balik hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat justru berubah menjadi kontroversi, menyusul dominasi perbincangan soal isu “genosida kulit putih” yang diklaim secara keliru oleh Presiden AS Donald Trump. (22/05/2025).
Baca Juga: Mengenal Sisi Lain Justin Hubner: Dari Lapangan ke Pencarian Jati Diri
Alih-alih membahas kerja sama bilateral, Trump justru mengarahkan percakapan dengan Ramaphosa pada isu kekerasan terhadap petani kulit putih di Afrika Selatan — sebuah narasi yang telah dibantah oleh berbagai data. Trump bahkan menayangkan video dan menunjukkan artikel-artikel yang diklaim sebagai bukti, meskipun angka resmi menunjukkan fakta berbeda.
Reaksi warga Afrika Selatan pun beragam, mulai dari rasa frustrasi hingga mempertanyakan nilai dari kunjungan tersebut. “Saya rasa itu keputusan yang keliru. Kita tidak perlu menjelaskan diri kita kepada Amerika,” kata Sobelo Motha, seorang anggota serikat pekerja di Johannesburg.
Baca Juga: Top Skor Serie A yang Membumi: Potret Mateo Retegui di Balik Ketajamannya
Ramaphosa yang tenang dalam menghadapi tekanan ini dinilai oleh sebagian pihak sebagai sikap kenegaraan. “Itu bukan sifat presiden kami untuk konfrontatif. Ia memandang masalah dengan tenang,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Chrispin Phiri.
Namun demikian, sejumlah analis menyayangkan pertemuan itu yang dinilai memberi panggung bagi narasi-narasi keliru yang telah lama digaungkan kelompok sayap kanan global dan beberapa komunitas Afrikaner.
Data dari serikat petani Afrikaner sendiri menunjukkan hanya 1.363 pembunuhan petani kulit putih sejak 1990 — kurang dari 1% dari total kasus pembunuhan di negara itu yang mencapai sekitar 20.000 per tahun, mayoritas korban adalah warga kulit hitam.
Baca Juga: Tanpa Pengawasan Federal, Akankah Reformasi Kepolisian Tetap Berjalan?
Kunjungan Ramaphosa ke Washington juga diwarnai kehadiran pebisnis papan atas Afrika Selatan seperti Johann Rupert, namun itu tidak cukup untuk mengalihkan fokus Trump dari isu yang keliru.