Laporan BPS 2024 menunjukkan bahwa sebanyak 9,3% anak usia sekolah di Indonesia tidak mengenyam pendidikan menengah pertama, dengan penyebab utama adalah keterbatasan akses dan biaya.
Menurut kajian dari World Bank Indonesia Education Report 2023, kebijakan zonasi terbukti meningkatkan partisipasi pendidikan dasar hingga 11% di wilayah pedesaan.
Studi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) tahun 2022 menyatakan bahwa sistem pendidikan yang inklusif dan berbasis zonasi mampu menurunkan kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah.
Baca Juga: Revolusi Kepala Sekolah: Pemerintah Pastikan Kualitas dan Pemerataan Melalui Permendikdasmen 2025
Dengan diberlakukannya sistem ini, Kemdikbudristek berharap kualitas pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkat dari sisi akademik, tetapi juga membentuk karakter bangsa yang inklusif, berintegrasi sosial tinggi, serta memiliki kohesivitas yang kuat di tengah keberagaman.
SPMB 2025 bukan sekadar sistem seleksi, tapi gerbang menuju masa depan pendidikan Indonesia yang setara dan berkualitas.***