Gagal bayar sering terjadi karena tidak ada dana darurat untuk menghadapi masa paceklik atau musim sepi pembeli.
1. Unit usaha bergantung pada musim panen. Ketika gagal panen, tanpa dana cadangan, koperasi lumpuh dan menunggak kewajiban.
2. Mengandalkan satu pelanggan besar. Ketika pelanggan berhenti beli, omzet jatuh dan koperasi gagal bayar cicilan karena tidak punya tabungan darurat.
Baca Juga: Dari Rakyat, oleh Rakyat, untuk Rakyat: Perjalanan Koperasi di Indonesia
8. Kopdes tidak mendidik anggota soal tanggung jawab kolektif
Jika anggota tidak merasa memiliki dan tidak saling mengawasi, semangat kolektif hilang.
Ini bisa bikin moral rusak dan pembayaran macet.
Contoh:
-
Anggota pinjam uang dari unit simpan pinjam lalu tidak bayar. Ketika ditagih, mereka bilang “Itu kan uang koperasi, bukan utang pribadi,” padahal mereka sendiri bagian dari koperasi. Akhirnya banyak yang ikut-ikutan mangkir.
-
Warga melihat pengurus tidak transparan, tapi tidak ada yang berani bertanya atau mengingatkan. Rasa takut atau cuek bikin sistem tidak sehat berkembang. Saat terjadi kebocoran dana, akhirnya semua saling menyalahkan.
Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih Akan Didorong Biayai Beasiswa Pendidikan Warga Kurang Mampu
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ini bukan program bagi-bagi dana atau hibah dari pemerintah.
Kopdes ini adalah lembaga bisnis milik warga itu sendiri.
Karena itu, setiap unit usaha dalam Kopdes harus dikelola secara profesional, untung, dan berkelanjutan.
Keuntungan itulah yang nantinya akan kembali ke anggota dalam bentuk SHU (Sisa Hasil Usaha).