Contoh:
Kopdes di daerah pesisir membuka usaha ternak sapi karena mengikuti tren internet. Padahal mayoritas warga adalah nelayan tanpa padang rumput. Akhirnya, sapi tidak terurus dan usaha merugi.
Membangun cold storage di desa yang tidak memiliki rantai distribusi hasil panen nelayan.
Membuka toko pupuk di desa yang mayoritas bukan petani. Stok menumpuk, tidak laku, dan modal macet.
3. Meminjam Modal Besar Tanpa Perhitungan dan Analisa yang Jelas
Hindari pinjaman besar hanya karena bunga rendah atau akses mudah. Pastikan ada rencana usaha dan proyeksi keuntungan yang realistis.
Baca Juga: Koperasi Merah Putih: Sinergi Kemenkop dan KPK Demi Ekonomi Desa Transparan
Contoh:
Kopdes ambil pinjaman Rp500 juta untuk buka cold storage dan alat berat pertanian, padahal panen lokal tidak mencukupi dan biaya listrik tinggi. Omzet tidak mampu menutup cicilan bank.
Pinjam Rp300 juta untuk buka gerai sembako modern di desa. Harga barang terlalu mahal dibanding warung biasa, sehingga masyarakat tetap belanja di tempat lain. Omzet pun tak sesuai target.
4. Sistem Administrasi dan Keuangan Berantakan dan Tidak Transparan
Pencatatan keuangan yang tidak rapi, tidak digital, dan tidak dapat diaudit menimbulkan risiko besar terhadap korupsi dan kebocoran kas.
Baca Juga: Sinergi Merah Putih: Aturan Baru Buka Jalan Reformasi Koperasi Desa
Contoh praktik buruk yang sering terjadi:
1). Semua transaksi hanya dicatat di buku tulis tanpa backup. Jika buku hilang atau rusak (misalnya karena banjir), data keuangan lenyap tanpa bisa dipertanggungjawabkan.