BOGOR, METROSELEBES.COM – Kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kota Bogor terus menjadi perhatian publik.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengungkap fakta mengejutkan bahwa insiden tersebut justru berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah berpengalaman.
Baca Juga: BPOM Beberkan Fakta Vaksin TBC M72, Didanai Bill Gates dan Sudah Diuji Ribuan WNI
Dadan menjelaskan, petugas yang menangani distribusi MBG di lokasi kejadian sudah menjalankan tugas selama 3 hingga 4 bulan. Namun, menurutnya, rutinitas yang berjalan lancar justru bisa membuat kewaspadaan menurun.
“Kejadian (keracunan) justru dari SPPG yang sudah 3-4 bulan melakukan pelayanan. Jadi mungkin karena aman setiap hari, sudah merasa terbiasa, sehingga kami melihat butuh penyegaran,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Ombudsman, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Mei 2025.
Sebagai langkah korektif, BGN akan menggelar pelatihan ulang secara berkala untuk para penjamah makanan dalam program MBG.
Baca Juga: Keracunan Massal Program MBG di Bogor, Uji Lab Ungkap Kontaminasi E. coli dan Salmonella
“Setiap 2-3 bulan kita akan lakukan training ulang untuk para penjamah makanan supaya kewaspadaan terus ditingkatkan. Standar kualitas (makanan) tetap dijaga supaya rutinitas itu tidak membiuskan mereka,” tegas Dadan.
Kasus keracunan MBG di Kota Bogor terjadi pada periode pembagian makanan 6–9 Mei 2025 oleh SPPG Bina Insani. Berdasarkan hasil uji laboratorium dari Labkesda, ditemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella.
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menjelaskan bahwa kontaminasi berasal dari bahan makanan seperti ceplok telur berbumbu barbeque, tumis toge, dan tahu.
Baca Juga: Meutya Hafid Dukung Siswa Nakal Masuk Barak TNI, Sebut Bisa Jadi Model Nasional
“Bakteri ini muncul dari ceplok telor yang dipakai bumbu barbeque, yang kedua dari tumis toge dan tahu yang terindikasi mengandung Salmonella,” terang Dedie kepada awak media, Senin, 12 Mei 2025.
Kasus ini telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan total korban tercatat mencapai 223 siswa. Pemerintah daerah bersama BGN tengah mengambil langkah cepat untuk mencegah kejadian serupa terulang di wilayah lain. ***
Artikel Terkait
13 Kandidat Kuat Peraih Ballon d'Or 2025, Siapa yang Terdepan?
Langkah Mengejutkan: Trump Temui Presiden Suriah, Isyaratkan Normalisasi Hubungan
172 Triliun dari Perkebunan! Generasi Muda Dipanggil Jadi Garda Depan Kedaulatan Pangan
Aviva Terancam Gagal Kuasai Direct Line, Otoritas Persaingan Usut Potensi Monopoli
Sawit 4.0: Revolusi Senyap yang Akan Mengubah Peta Ekonomi Indonesia
Eropa Bersiap Cekik Ekonomi Rusia: Prancis Desak Sanksi Penghabisan
Siswa Jabar Dilarang Bawa HP Ke Sekolah, Aturan Baru Usai Kebijakan Barak TNI
Cuti Panjang Tanpa Gaji: Fenomena CLTN di Kalangan ASN, Legal dan Manusiawi
BPOM Beberkan Fakta Vaksin TBC M72, Didanai Bill Gates dan Sudah Diuji Ribuan WNI
Meutya Hafid Dukung Siswa Nakal Masuk Barak TNI, Sebut Bisa Jadi Model Nasional