Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, menyatakan bahwa kemajuan signifikan telah dicapai dalam pembentukan kerangka perjanjian dagang dan menyebutkan bahwa kesepakatan bisa saja tercapai dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Ketegangan Tarif AS dan Konflik Perbatasan Bayangi Pertemuan Menlu ASEAN di Malaysia
Ia mengatakan kepada parlemen Eropa bahwa tenggat waktu yang diperpanjang hingga 1 Agustus memberi ruang tambahan bagi para negosiator untuk merampungkan rincian terakhir. Namun demikian, Menteri Ekonomi Italia Giancarlo Giorgetti memperingatkan bahwa pembicaraan masih rumit dan bisa berlangsung hingga batas waktu habis.
Tarif Tertinggi dalam 90 Tahun
Meski pasar saham relatif tenang terhadap gelombang tarif terbaru, mata uang yen Jepang terus melemah setelah tarif diumumkan. Berdasarkan estimasi lembaga riset Yale Budget Lab, tarif efektif yang kini dikenakan konsumen AS meningkat menjadi 17,6%, naik dari 15,8% sebelumnya — menjadikannya tingkat tarif tertinggi sejak era Depresi Besar pada 1934.
Pemerintahan Trump mengklaim bahwa tarif ini menjadi sumber pendapatan besar bagi negara. Menteri Keuangan Scott Bessent menyebutkan bahwa sekitar $100 miliar telah berhasil dikumpulkan sejauh ini, dan proyeksinya bisa mencapai $300 miliar pada akhir tahun. Sebagai perbandingan, pendapatan tarif AS dalam beberapa tahun terakhir rata-rata hanya berkisar $80 miliar per tahun.
Baca Juga: Ketegangan Tarif AS dan Konflik Perbatasan Bayangi Pertemuan Menlu ASEAN di Malaysia
Trump sendiri menjanjikan "90 kesepakatan dalam 90 hari" setelah meluncurkan gelombang tarif pada April lalu. Namun hingga kini, baru dua kesepakatan yang berhasil dicapai — masing-masing dengan Inggris dan Vietnam. Trump menyebut kesepakatan dengan India "sudah sangat dekat".
Gubernur Massachusetts dari Partai Demokrat, Maura Healey, mengkritik tajam langkah Trump dan menyebutnya sebagai kegagalan dalam mengelola perang dagang.
Baca Juga: Penjualan Global Porsche Turun di Semester Pertama 2025, Pasar China Jadi Pemicu Utama
"Presiden Trump terpilih dengan janji menurunkan biaya hidup, namun justru menaikkan harga dan menyulitkan pelaku usaha kita," kata Healey dalam pernyataannya.