Sementara itu, Uni Eropa belum memberikan tanggapan atas kebijakan balasan Tiongkok tersebut. Kantor delegasi UE di Beijing menolak memberikan komentar saat dimintai keterangan.
Pertemuan tingkat tinggi antara para pemimpin Tiongkok dan Uni Eropa dijadwalkan berlangsung di akhir Juli, di tengah memburuknya hubungan perdagangan kedua belah pihak.
Baca Juga: Dapat Kembali Enam Sertifikat, Nirina Zubir Masih Dihantui Banding Kasus Mafia Tanah Mantan ART
Dalam perkembangan terpisah pada Jumat, Tiongkok resmi mengenakan bea masuk sebesar 34,9% selama lima tahun terhadap brandy asal Uni Eropa, mayoritas berasal dari Prancis. Namun, produsen besar seperti Pernod Ricard, LVMH, dan Remy Cointreau diberi kelonggaran asalkan menjual dengan harga minimum yang tidak diungkapkan oleh pihak Tiongkok. Langkah ini diyakini sebagai respons terhadap tarif kendaraan listrik yang dikenakan Uni Eropa terhadap Tiongkok.