Beberapa jam sebelum pengumuman Trump, Iran meluncurkan rudal ke pangkalan udara AS di Qatar sebagai balasan atas serangan akhir pekan lalu. Serangan ini tidak menimbulkan korban jiwa dan dinilai sebagai tindakan yang "terkalibrasi" untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.
Iran kini berada dalam kondisi yang sangat lemah setelah mengalami hari-hari serangan udara Israel yang intensif terhadap situs militer dan nuklir serta pembunuhan terarah terhadap para ilmuwan dan komandan keamanan penting. Hal ini diyakini menjadi alasan Tehran bersedia mempertimbangkan gencatan senjata.
Trump, yang mengaku mendapat dukungan dari Israel dan negara-negara seperti Qatar untuk menjembatani komunikasi dengan Iran, menyerukan dimulainya dialog antara kedua negara musuh bebuyutan tersebut.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih Harus Jadi Milik Kolektif Warga Desa, Bukan Dikuasai Elit
Pertaruhan Terbesar Trump
Keputusan Trump untuk secara langsung membombardir Iran merupakan langkah yang selama ini ia hindari. Langkah tersebut dinilai sebagai pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar dalam masa kepresidenannya. Risiko serangan balik yang lebih luas sempat menimbulkan kekhawatiran akan ditutupnya Selat Hormuz, serangan ke pangkalan militer AS di Timur Tengah, hingga serangan proksi terhadap kepentingan AS dan Israel di seluruh dunia.
Namun jika Trump berhasil mengakhiri konflik antara Israel dan Iran, ia mungkin dapat meredam kritik dari kalangan Demokrat dan kelompok anti-intervensionis dalam Partai Republik, sambil mengalihkan fokus kembali ke agenda domestik seperti deportasi imigran ilegal dan kebijakan perdagangan.
Masa Depan yang Masih Suram
Baca Juga: DPR RI Buka Masa Sidang IV, Fokus Tangani PHK dan Stimulus Ekonomi
Meski beberapa analis melihat peluang positif, banyak tantangan masih membayangi. Dennis Ross, mantan negosiator Timur Tengah, menyatakan bahwa Iran mungkin membutuhkan gencatan senjata ini, sementara Israel telah mencapai sebagian besar target militernya.