Kedua negara memiliki waktu hingga 10 Agustus untuk merumuskan kesepakatan menyeluruh. Jika gagal, tarif akan kembali melonjak: dari sekitar 30% menjadi 145% untuk barang-barang dari Tiongkok ke AS, dan dari 10% menjadi 125% untuk ekspor AS ke Tiongkok.
Dampak Pasar dan Reaksi Global. Reaksi pasar terhadap pengumuman kesepakatan tergolong moderat. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,2%. Analis memperingatkan bahwa perincian implementasi—seperti volume rare earth yang diizinkan masuk ke AS, dan pembukaan kembali akses chip AS ke Tiongkok—akan sangat menentukan arah selanjutnya.
Baca Juga: Sidang Pemakzulan Sara Duterte Dimulai: Masa Depan Politik Filipina di Titik Kritis
Kebijakan tarif AS selama ini telah menimbulkan ketidakpastian global, mengganggu rantai pasok, dan menambah biaya produksi. Bank Dunia bahkan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 menjadi 2,3%, menyebut tarif tinggi sebagai penghambat signifikan.
Diplomasi Telepon dan Dinamika Internal. Kemajuan dalam perundingan di London didorong oleh percakapan telepon langka antara Trump dan Xi pekan lalu, yang memberikan mandat langsung untuk mendekatkan posisi. Sementara itu, data bea cukai menunjukkan ekspor Tiongkok ke AS anjlok hingga 34,5% pada Mei—penurunan terbesar sejak pandemi COVID-19.
Meski belum menimbulkan gejolak besar pada inflasi dan pasar tenaga kerja AS, tarif ini telah merusak kepercayaan bisnis dan konsumen, serta menekan nilai dolar.
Tekanan Hukum Masih Mengintai. Tak lama setelah pengumuman kesepakatan, pengadilan banding AS mengizinkan tarif tinggi Trump tetap berlaku selama proses hukum masih berjalan, menjaga tekanan terhadap Beijing tetap hidup.
Baca Juga: Benteng Raksasa Pantura: Mega Proyek Giant Sea Wall Penyelamat Pesisir Jawa
Dengan kerangka kerja awal telah disepakati, harapan kini tertuju pada dua pemimpin negara untuk menyetujui dan menindaklanjutinya secara konkret. Dunia menanti, apakah ini hanya jeda sementara atau langkah awal menuju perdamaian dagang yang lebih permanen.