Kementerian Kesehatan Palestina memperingatkan bahwa rumah sakit-rumah sakit di Gaza hanya memiliki persediaan bahan bakar untuk tiga hari ke depan. Sementara itu, pasokan dari lembaga bantuan internasional masih terhambat karena pembatasan akses oleh Israel, termasuk ke lokasi penyimpanan bahan bakar untuk fasilitas medis.
Baca Juga: Trump: Ketua The Fed Baru Segera Diumumkan, Harus Siap Turunkan Bunga
Distribusi Bantuan Dihentikan. Lembaga kemanusiaan Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang didukung AS dan Israel, menghentikan distribusi bantuan pada Jumat karena kondisi kerumunan yang tidak aman. Sebelumnya pada 1–3 Juni, lebih dari 80 orang dilaporkan tewas dan ratusan terluka saat berebut bantuan di titik distribusi.
GHF, yang mulai menyalurkan bantuan akhir Mei lalu, menyatakan telah mendistribusikan sekitar 9 juta paket makanan. Namun, model distribusi baru yang mereka jalankan dikritik oleh PBB karena dianggap tidak netral dan tidak adil.
Tekanan Internasional dan Ketidakpastian Perdamaian. Dengan lebih dari 54.000 warga Palestina tewas dan sebagian besar wilayah Gaza hancur, Israel menghadapi tekanan internasional yang terus meningkat. Mayoritas korban disebut sebagai warga sipil, dan lebih dari dua juta penduduk Gaza kini berada di ambang kelaparan, menurut PBB.
Baca Juga: Putusan Kontroversial: Mahkamah Agung AS Dukung DOGE Akses Data Sensitif Warga
Sementara itu, keluarga para sandera yang masih ditahan menyuarakan keprihatinan bahwa ofensif militer justru membahayakan keselamatan para sandera yang masih hidup, dan membuat jenazah yang sudah meninggal tak akan pernah bisa ditemukan kembali.
Israel tetap bersikukuh bahwa kampanye militer ini bertujuan membebaskan seluruh sandera dan mengakhiri kekuasaan Hamas di Gaza. Sejauh ini, lebih dari 40 sandera dilaporkan tewas dalam penahanan—baik karena dibunuh oleh penculik maupun terkena dampak serangan militer Israel sendiri.
Baca Juga: Retaknya Aliansi Trump-Musk: Perseteruan Terbuka Ancam Stabilitas Politik dan Ekonomi AS
Perang yang dipicu oleh serangan mengejutkan Hamas pada Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang di Israel, terus berlanjut tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.