Beberapa analis menilai Netanyahu mungkin sedang menggertak balik, dengan asumsi bahwa partai-partai ultra-Ortodoks tidak ingin mengambil risiko kehilangan kursi dalam pemilu dini. Hal ini pernah terjadi pada Maret lalu, saat ancaman serupa dilontarkan tetapi tidak membuahkan tindakan nyata.
Netanyahu, yang memenangkan pemilu pada 2022, secara resmi tidak perlu menggelar pemilu hingga 2026. Namun, sejarah mencatat bahwa sangat sedikit pemerintahan Israel yang bertahan hingga akhir masa jabatan penuh.
Ia juga masih bergulat dengan kritik tajam atas kegagalan pemerintah mencegah serangan Hamas tahun lalu, serta tekanan dari publik dan keluarga sandera yang masih ditahan di Gaza untuk segera mengakhiri perang dan membawa para sandera pulang. Di sisi lain, beberapa anggota koalisi menyatakan perang harus berlanjut hingga Hamas sepenuhnya dilenyapkan.
Meskipun krisis ini berpotensi menggulingkan pemerintah, sejumlah pengamat berpendapat bahwa langkah paling mungkin dilakukan oleh partai ultra-Ortodoks adalah mundur dari kabinet tanpa menjatuhkan koalisi sepenuhnya — cukup untuk menunjukkan protes, tanpa kehilangan pengaruh politik secara keseluruhan.
Baca Juga: Menkes Minta MK Tolak Gugatan IDI, Tegaskan UU Kesehatan Tak Langgar Konstitusi
Dengan waktu satu minggu tersisa sebelum pemungutan suara, Netanyahu masih memiliki peluang untuk melakukan negosiasi dan menyelamatkan pemerintahannya dari kemungkinan kejatuhan.