NEW DELHI,METROSELEBES.COM-Dunia penerbangan komersial tengah menghadapi tekanan besar akibat meningkatnya ancaman rudal, drone, serta penutupan wilayah udara yang meluas di berbagai zona konflik. Maskapai penerbangan global kini harus merogoh kocek lebih dalam dan mengambil keputusan rumit demi menjaga keselamatan operasional serta menghindari potensi tragedi di langit.
Baca Juga: Maskapai Dunia Kembali Hentikan Penerbangan ke Israel Setelah Serangan Rudal
Konflik bersenjata yang terus bermunculan di berbagai belahan dunia — mulai dari Eropa Timur, Timur Tengah, Asia Selatan hingga Afrika — memaksa maskapai untuk terus menyesuaikan jalur penerbangan secara mendadak, menanggung biaya tambahan yang tinggi, dan kehilangan pangsa pasar akibat pembatalan maupun pengalihan penerbangan.
“Perencanaan penerbangan di lingkungan seperti ini sangatlah sulit. Industri penerbangan mengandalkan prediktabilitas, dan ketika itu hilang, maka biaya akan melonjak,” kata Guy Murray, Kepala Keamanan Penerbangan di TUI Airline, maskapai asal Eropa.
Baca Juga: Mantan Terpidana Bom Bali 2002 Buka Usaha Kopi, Janji Sisihkan Penghasilan untuk Korban
Wilayah udara yang ditutup akibat konflik — termasuk di sekitar Rusia dan Ukraina, jalur antara India dan Pakistan, serta sebagian kawasan Timur Tengah dan Afrika — menyisakan lebih sedikit pilihan rute bagi maskapai. Menurut Mark Zee, pendiri OPSGROUP, organisasi berbasis keanggotaan yang menyebarkan informasi risiko penerbangan, kini lebih dari separuh negara yang dilintasi penerbangan Eropa–Asia harus dievaluasi secara cermat sebelum lepas landas.
Situasi menjadi semakin kritis sejak pecahnya konflik antara Israel dan Palestina pada Oktober 2023, di mana pesawat komersial harus berbagi langit dengan serangan drone dan rudal yang datang tiba-tiba. Beberapa di antaranya dilaporkan terlihat langsung oleh penumpang dan awak pesawat.
Baca Juga: Tarif Trump dan Masalah Logistik Tekan Kepercayaan Bisnis di Afrika Selatan
Di Rusia, bandara-bandara termasuk di Moskow, kerap ditutup secara sementara akibat aktivitas drone. Sementara itu, gangguan navigasi seperti GPS spoofing dan jamming meningkat pesat di berbagai wilayah rawan konflik di dunia.
Ketegangan antara India dan Pakistan juga berdampak besar. Saat konflik meletus bulan lalu, kedua negara saling menutup wilayah udaranya bagi pesawat masing-masing. "Wilayah udara seharusnya tidak digunakan sebagai alat balas dendam, tapi nyatanya itu yang terjadi," ujar Nick Careen, Wakil Presiden Senior IATA bidang Operasi, Keselamatan, dan Keamanan, dalam pertemuan tahunan asosiasi maskapai penerbangan dunia di New Delhi.