PDVSA juga mulai mengekspor minyak mentah berat jenis Boscan secara mandiri ke Asia. Minyak ini sebelumnya diproduksi bersama Chevron dan diekspor ke kilang-kilang di AS.
Dalam perkembangan lain, Venezuela juga meningkatkan impor bahan bakar menjadi sekitar 159.000 bph pada Mei dari 94.000 bph di April. Kenaikan ini ditujukan untuk mengisi kembali stok nafta berat yang dibutuhkan untuk mengencerkan produksi minyak super berat negara tersebut sebelum pemberlakuan sanksi yang lebih ketat dari AS.
Baca Juga: Stok Beras Nasional Tembus 4 Juta Ton, Indonesia Dilirik Dunia sebagai Kekuatan Pangan Baru
Chevron mengonfirmasi bahwa lisensinya telah berakhir dan menyatakan bahwa operasionalnya di Venezuela tetap mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku, termasuk kerangka sanksi dari pemerintah AS. Pihak PDVSA dan Reliance belum memberikan tanggapan resmi, sementara Vitol dan Maurel & Prom menolak berkomentar.
Baca Juga: Breaking News: Longsor Terjadi di Tambang Poboya, Satu Orang Tewas dan Satu Luka-Luka
Dengan kondisi pasar yang kian menantang, Venezuela tampaknya tetap mencari celah dalam menjaga stabilitas ekspor minyaknya—sektor vital yang menopang perekonomian negara itu di tengah konflik geopolitik global.