internasional

Trump Naikkan Tarif Baja, Korea dan Vietnam Kena Getahnya?

Senin, 2 Juni 2025 | 16:58 WIB
Derek dan kontainer pengiriman terlihat di pelabuhan Pyeongtaek di Pyeongtaek, Korea Selatan, pada 2 April 2025. Source FOTO: REUTERS

 

Meski demikian, data perdagangan menunjukkan bahwa ekspor baja Korea Selatan ke AS justru naik 12% pada April dibandingkan tahun sebelumnya—mencerminkan ketangguhan sektor ini meski dibayangi kebijakan proteksionis AS.

 

Dampak Global Lebih Luas. Tarif baru ini bukan hanya mengguncang Asia. Di Eropa, produsen baja terbesar kedua Jerman, Salzgitter, mengungkapkan keprihatinan bahwa kebijakan Trump memberikan pukulan berat bagi industri baja Eropa. Sementara itu, India—eksportir utama aluminium ke AS—juga menyuarakan kekhawatiran. "Ini akan berdampak buruk," ujar B.K. Bhatia dari Federasi Industri Mineral India, seraya menambahkan bahwa pemerintah India tengah bernegosiasi untuk meredam efek tarif tersebut.

Baca Juga: Perang Dagang Trump Guncang Ekonomi Global: Dari Tarif Ekspor Gila-Gilaan hingga Drama Pengadilan

Trump sebelumnya telah memberlakukan tarif 25% atas sebagian besar impor baja dan aluminium sejak Maret, tak lama setelah ia kembali menjabat awal tahun ini. Kenaikan terbaru ini diperkirakan akan makin mendongkrak harga baja di AS, menekan sektor konstruksi, otomotif, dan peralatan rumah tangga.

 

Harapan Pada Diplomasi. Di tengah ketegangan ini, Korea Selatan masih berharap pada jalur diplomasi. Seoul telah menyepakati penyusunan paket perdagangan dengan AS pada akhir Juli, bersamaan dengan jeda 90 hari atas tarif timbal balik Trump. Namun, proses negosiasi terhambat oleh kekosongan kepemimpinan politik menjelang pemilu yang akan datang.

Baca Juga: Upaya Perdamaian Diblokir: Israel Gagalkan Kunjungan Menteri Arab ke Palestina

Sementara itu, Hyundai Steel telah mengumumkan rencana pembangunan pabrik senilai USD 5,8 miliar di Louisiana sebagai strategi jangka panjang menghadapi kebijakan tarif AS. Pabrik ini diperkirakan baru akan beroperasi pada 2029. Rivalnya, POSCO, juga telah menandatangani kesepakatan awal untuk investasi dalam proyek tersebut.

 

Menurut data Departemen Perdagangan AS, Amerika Serikat adalah pengimpor baja terbesar dunia (di luar Uni Eropa), dengan volume 26,2 juta ton baja yang masuk pada tahun 2024. Kenaikan tarif hingga 50% hampir dipastikan akan mengguncang pasar, memicu negosiasi ulang antara eksportir dan pembeli AS terkait siapa yang akan menanggung lonjakan biaya tambahan tersebut.

Baca Juga: Dari Jalanan Hong Kong ke Pameran di Taipei: Perjuangan Fu Tong Tak Berakhir

“Lonjakan ini akan memaksa para penjual untuk merundingkan kembali kontrak dengan pembeli di AS—dan menentukan siapa yang harus memikul beban tambahan 25% itu,” kata Thaiseer Jaffar, pendiri Global Steel Summit yang berbasis di Dubai.

Halaman:

Tags

Terkini