Melihat ke depan, analis Goldman Sachs memproyeksikan bahwa OPEC+ akan melakukan kenaikan produksi terakhir sebesar 410.000 bph pada bulan Agustus. Dalam catatan yang dirilis Minggu, mereka menyebutkan bahwa kondisi pasokan minyak global yang relatif ketat, data aktivitas ekonomi global yang kuat, dan permintaan musiman selama musim panas akan mendorong keputusan untuk tetap meningkatkan produksi.
Sementara itu, kekhawatiran terhadap pasokan kembali mencuat di Amerika Serikat, di tengah tingkat persediaan bahan bakar yang rendah menjelang musim badai Atlantik yang diperkirakan lebih aktif dari rata-rata.
Baca Juga: Mampukah Pertemuan di Istanbul Hentikan Perang Ukraina-Rusia?
Analis dari ANZ menyebut adanya lonjakan besar dalam permintaan bensin di AS sebagai sinyal positif, terutama menjelang dimulainya musim mengemudi di negara tersebut. Kenaikan hampir 1 juta bph minggu lalu tercatat sebagai yang terbesar ketiga dalam tiga tahun terakhir.
Di sisi lain, penurunan harga minyak juga mulai mempengaruhi produksi minyak AS. Data dari Baker Hughes menunjukkan bahwa jumlah rig minyak aktif di AS turun untuk minggu kelima berturut-turut menjadi 461, angka terendah sejak November 2021.
Baca Juga: India Klaim Taktik Baru Sukses Kalahkan Pakistan dalam Konflik Terbaru
Dengan sejumlah faktor yang mendukung harga, termasuk kebijakan OPEC+, permintaan musiman, dan penurunan produksi di AS, pasar minyak tampaknya akan tetap volatil namun cenderung menguat dalam waktu dekat.