Harapan Terakhir Buaya Orinoco: Bertahan di Tengah Ancaman Kepunahan

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Senin, 19 Mei 2025 | 18:41 WIB
Seekor buaya Orinoco terlihat di Peternakan Masaguaral, sebuah pusat penangkaran di dekat Tamarindito, Negara Bagian Guarico, Venezuela, pada 22 April 2025. Buaya Orinoco dewasa dapat mencapai panjang lebih dari 5 meter (16 kaki). Source FOTO: REUTERS
Seekor buaya Orinoco terlihat di Peternakan Masaguaral, sebuah pusat penangkaran di dekat Tamarindito, Negara Bagian Guarico, Venezuela, pada 22 April 2025. Buaya Orinoco dewasa dapat mencapai panjang lebih dari 5 meter (16 kaki). Source FOTO: REUTERS

CAPANAPARO,VENEZUELA,METROSELEBES.COM— Di tengah rawa-rawa terpencil Venezuela, sebuah perjuangan senyap tengah berlangsung. Carlos Alvarado, seorang ahli biologi berusia 34 tahun, memegang seekor anak buaya Orinoco dengan hati-hati — satu tangan menggenggam leher, satu lagi pada ekor. Dengan bantuan lakban dan jangka ukur, ia mencatat pertumbuhan reptil muda itu. Dalam beberapa hari, hewan tersebut akan dilepaskan ke alam liar.

 

Ini bukan sekadar rutinitas ilmiah. Ini adalah upaya terakhir menyelamatkan salah satu reptil terbesar dan paling terancam punah di dunia: buaya Orinoco (Crocodylus intermedius).

Baca Juga: Inggris dan Uni Eropa Sepakati Babak Baru Kerja Sama Perdagangan dan Pertahanan Pasca-Brexit

Menurut yayasan konservasi Venezuela, FUDECI, jumlah buaya Orinoco di alam liar kini diperkirakan kurang dari 100 ekor. Habitat aslinya, yang mencakup lembah Sungai Orinoco di Venezuela dan sebagian Kolombia, semakin tergerus oleh perburuan liar dan tekanan ekonomi.

 

 

Selama puluhan tahun, Kelompok Spesialis Buaya Venezuela telah membesarkan anak buaya Orinoco di penangkaran, dalam perlombaan melawan waktu untuk mencegah kepunahan total. Namun, mereka mulai kehabisan waktu dan tenaga. Generasi muda ilmuwan banyak yang meninggalkan negara itu akibat krisis, meninggalkan sedikit pejuang konservasi yang tersisa.

Baca Juga: Kejutan Politik di Portugal: Chega Raih Dukungan Tertinggi, Dua Partai Besar Terancam Tergeser

"Saya merasa ini adalah tanggung jawab besar," kata Alvarado. Ia kini menjadi salah satu dari sedikit ilmuwan muda yang bertahan dan terus berusaha menginspirasi mahasiswa untuk ikut serta dalam upaya pelestarian ini.

 

Sementara itu, Federico Pantin, 59 tahun, direktur Kebun Binatang Leslie Pantin di Turmero, pesimis akan masa depan buaya ini. "Kita hanya menunda kepunahannya," ujarnya.

 

Meski demikian, Pantin dan rekan-rekannya tetap menjalankan penelitian, pengukuran, hingga pemindahan buaya dari penangkaran ke habitat alaminya. Mereka mengumpulkan telur atau anak buaya dari alam liar dan juga membiakkan indukan buaya di kebun binatang serta di Peternakan Masaguaral, pusat keanekaragaman hayati dekat Tamarindito.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Rekomendasi

Terkini

X