Usai Perundingan Damai Gagal, Rusia Hujani Ukraina dengan 273 Drone

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Minggu, 18 Mei 2025 | 19:45 WIB
Petugas pemadam kebakaran bekerja di lokasi sebuah perusahaan swasta yang terkena serangan drone Rusia, di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina, di luar Kyiv, Ukraina, pada Minggu  18 Mei 2025. Source FOTO: REUTERS
Petugas pemadam kebakaran bekerja di lokasi sebuah perusahaan swasta yang terkena serangan drone Rusia, di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina, di luar Kyiv, Ukraina, pada Minggu 18 Mei 2025. Source FOTO: REUTERS

KYIV,METROSELEBES.COMK–Ukraina mengumumkan bahwa Rusia telah melancarkan serangan drone terbesar sejak invasi besar-besaran dimulai pada 202, Minggu (18/05/2025) hanya dua hari setelah perundingan damai antara kedua negara gagal mencapai gencatan senjata sementara. Serangan ini menewaskan seorang wanita muda dan melukai sedikitnya tiga orang, termasuk seorang anak berusia 4 tahun.

Baca Juga: Pendaki Inggris Kenton Cool Ukir Sejarah, Taklukkan Everest untuk ke-19 Kali

Menurut Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan total 273 drone hingga pukul 08.00 waktu setempat (05.00 GMT), dengan sasaran utama wilayah Kyiv, Dnipropetrovsk, dan Donetsk di bagian timur negara tersebut. Dari jumlah tersebut, 88 drone berhasil ditembak jatuh, sementara 128 drone simulator dilaporkan jatuh sebelum mencapai target.

 

Serangan ini melampaui rekor sebelumnya pada Februari lalu, ketika Rusia meluncurkan 267 drone menjelang peringatan tiga tahun invasi. Militer Ukraina menyebut serangan pada Minggu dini hari ini sebagai “malam yang berat”, dengan peringatan serangan udara berlangsung hingga sembilan jam di beberapa wilayah.

Baca Juga: Serangan Udara Israel Tewaskan Lebih dari 100 Warga Gaza di Tengah Upaya Gencatan Senjata

Gubernur Kyiv, Mykola Kalashnik, mengonfirmasi bahwa seorang wanita berusia 28 tahun meninggal akibat luka yang dideritanya di distrik Obukhiv, Kyiv. "Sayangnya, korban tidak tertolong akibat serangan musuh," tulisnya di Telegram.

 

Andriy Kovalenko, Kepala Pusat Penanggulangan Disinformasi Ukraina, menyatakan bahwa Rusia kerap menggunakan kekuatan militer untuk menekan proses negosiasi. “Rusia selalu memanfaatkan perang dan serangan sebagai alat intimidasi dalam pembicaraan damai,” ujarnya.

 

Dalam perundingan di Istanbul pada Jumat lalu—yang merupakan pertemuan langsung pertama antara Ukraina dan Rusia dalam tiga tahun terakhir—kedua pihak hanya menyepakati pertukaran 1.000 tawanan perang masing-masing. Gencatan senjata sementara yang didorong oleh Kyiv dan sekutunya belum terwujud.

Baca Juga: Harga Beras Meroket, Dukungan untuk PM Ishiba Terjun Bebas

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan akan berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Senin dalam upaya meredakan ketegangan.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Rekomendasi

Terkini

X