GAZA,METROSEKEBES.COM-Lebih dari 100 warga Palestina tewas akibat serangan udara Israel yang menghantam berbagai wilayah di Jalur Gaza sepanjang malam, menurut keterangan dari otoritas kesehatan setempat pada Ahad (18/05/2025).
Serangan tersebut terjadi di tengah upaya terbaru dari mediator internasional yang berusaha menjembatani kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Baca Juga: Trump Incar Triliunan Dolar di Teluk, Abaikan Isu Gaza dan Iran
Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Khalil Al-Deqran, mengatakan bahwa seluruh keluarga menjadi korban dan terhapus dari catatan sipil akibat pemboman besar-besaran yang dilancarkan Israel. “Kami mencatat setidaknya 100 syuhada sejak malam tadi. Keluarga-keluarga dibinasakan sepenuhnya oleh serangan ini,” ujarnya kepada Reuters melalui sambungan telepon.
Militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan tersebut, namun sebelumnya menyatakan bahwa serangan udara yang diperluas merupakan bagian dari persiapan untuk operasi darat baru demi mencapai "kendali operasional" di wilayah tertentu di Gaza.
Baca Juga: Langkah Mengejutkan Hamas: Bebaskan Tentara AS di Tengah Krisis Kemanusiaan Gaza
Sementara itu, perundingan gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir dan Qatar dengan dukungan Amerika Serikat kembali digelar pada Sabtu, namun sumber yang dekat dengan proses negosiasi menyebut belum ada kemajuan signifikan.
Hamas menyatakan bahwa pembebasan sandera hanya akan dilakukan jika Israel setuju pada gencatan senjata total. Laporan dari Sky News Arabica dan BBC menyebutkan bahwa Hamas menawarkan pembebasan sekitar separuh dari sandera Israel yang ditahan dengan imbalan gencatan senjata selama dua bulan dan pembebasan tahanan Palestina. Namun, menurut seorang pejabat Hamas kepada Reuters, “Israel tetap pada posisinya—mereka ingin semua sandera dibebaskan tanpa menghentikan perang.”
Baca Juga: Hamas Tolak Lanjutkan Perundingan, Israel Siap Kuasai Seluruh Gaza
Ketegangan meningkat setelah laporan media Israel dan Arab menyebutkan kemungkinan tewasnya pemimpin Hamas, Mohammed Sinwar. Hamas belum mengonfirmasi atau membantah kabar tersebut, sementara Kementerian Pertahanan Israel menolak berkomentar.
Di sisi lain, warga Israel juga mulai bersuara. Einav Zangauker, ibu dari Matan Zangauker yang menjadi salah satu sandera Hamas, menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak gencatan senjata demi kepentingan politik. “Pemerintah Israel masih ngotot pada kesepakatan parsial. Mereka menyiksa kami dengan sengaja. Pulangkan anak-anak kami, semua 58 orang itu,” tulisnya di media sosial X.