TOKYO,METROSELEBES.COM-Jepang menegaskan komitmennya dalam kerja sama misi bulan meskipun Amerika Serikat berencana memangkas anggaran NASA hingga $6 miliar, yang berpotensi mengganggu kelanjutan program Artemis. Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA), Hiroshi Yamakawa, dalam konferensi pers bulanan di Tokyo, Jumat (16/05/2025).
Baca Juga: UAE Dapat Lampu Hijau dari AS untuk Beli Chip AI Canggih, Trump Ungkapkan Kesepakatan Besar
Program Artemis, yang diluncurkan pada masa jabatan pertama Presiden Donald Trump dan melibatkan mitra internasional seperti Jepang, Badan Antariksa Eropa (ESA), dan Kanada, bertujuan mengembalikan manusia ke bulan untuk pertama kalinya sejak 1972.
Namun, usulan anggaran terbaru dari Trump memprioritaskan eksplorasi Mars dengan pendekatan "hemat biaya", termasuk pemangkasan besar pada anggaran ilmu keantariksaan NASA dan kemungkinan pembatalan proyek stasiun luar angkasa bulan, Gateway.
Baca Juga: Di Antara Bisnis dan Keamanan: Inggris Kaji Ulang Hubungan dengan Tiongkok
"Jika Amerika Serikat mempertimbangkan alternatif yang lebih efisien secara anggaran, kami harus siap merespons," ujar Yamakawa. Ia menegaskan bahwa Jepang akan terus berupaya menjaga dan memperkuat kerja sama luar angkasa yang saling menguntungkan dengan AS.
Jepang telah menandatangani perjanjian dengan NASA tahun lalu untuk menyertakan dua astronot Jepang dan sebuah rover buatan Toyota dalam misi bulan mendatang. Namun, pemangkasan anggaran ini bisa berdampak pada pelaksanaan misi-misi tersebut.
Baca Juga: Di Antara Bisnis dan Keamanan: Inggris Kaji Ulang Hubungan dengan Tiongkok
Meskipun masa depan Gateway belum pasti, NASA menyatakan komponen yang telah dibangun bisa digunakan ulang untuk proyek lain, dan mitra internasional tetap akan diajak dalam inisiatif baru. JAXA sendiri telah mengembangkan modul hunian bersama ESA dan berencana menggunakan pesawat kargo HTV-X untuk mengirim pasokan ke Gateway.
Yamakawa menyatakan bahwa infrastruktur serupa tetap dibutuhkan dalam kegiatan eksplorasi bulan, meski proyeknya berganti nama. Ia menambahkan bahwa Jepang dapat berkontribusi melalui teknologi pendaratan presisi tinggi, kendaraan penjelajah, serta data air bulan dari misi bersama dengan India.
Baca Juga: Trump Cetak Sejarah di UEA: Umumkan Kesepakatan Raksasa 0 Miliar dan Aliansi AI
Sementara itu, persaingan antara AS dan China dalam bidang antariksa kian intens. Kedua negara terus menjajaki kolaborasi internasional dan melibatkan sektor swasta dalam proyek eksplorasi bulan, stasiun luar angkasa, serta satelit.