TOKYO,METROSELEBES.COM- 13 Mei 2025 Produsen mobil asal Jepang, Honda Motor Co., Ltd., mengumumkan prediksi penurunan laba operasi hingga 59% untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026. Penurunan tajam ini disebut sebagai dampak langsung dari tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap kendaraan buatan luar negeri.
Baca Juga: Trump Incar Triliunan Dolar di Teluk, Abaikan Isu Gaza dan Iran
Honda memperkirakan laba operasi hanya akan mencapai 500 miliar yen atau sekitar $3,38 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan 1,21 triliun yen yang dibukukan pada tahun fiskal sebelumnya.
Dalam pernyataan resminya, Honda juga mengungkapkan penundaan terhadap proyek besar mereka dalam pengembangan rantai pasok kendaraan listrik (EV) di Ontario, Kanada. Proyek yang semula diumumkan pada April 2024 itu kini ditangguhkan selama kurang lebih dua tahun.
Baca Juga: Pengungsi Kulit Putih dari Afrika Selatan Disambut di AS, Tuai Kontroversi
Keputusan ini dipicu oleh dua faktor utama: ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan perdagangan AS serta melambatnya permintaan global terhadap kendaraan listrik, yang semakin diperparah oleh persaingan ketat dari produsen EV asal Tiongkok.
"Kami harus meninjau ulang prioritas investasi kami, mengingat perubahan kondisi pasar dan tantangan geopolitik yang sedang berlangsung," ujar juru bicara Honda dalam konferensi pers.
Baca Juga: AS Longgarkan Tarif Impor dari China, E-Commerce Bernapas Lega
Penundaan proyek di Kanada tersebut merupakan bagian dari strategi Honda untuk mengelola risiko dan menyesuaikan diri dengan dinamika industri otomotif yang berubah cepat. Perusahaan tetap berkomitmen terhadap elektrifikasi jangka panjang, namun kini memilih pendekatan yang lebih hati-hati di tengah ketidakpastian global.
Langkah Honda ini menjadi sinyal penting bagi industri otomotif global, bahwa transisi menuju kendaraan listrik tidak hanya dipengaruhi oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh arus kebijakan politik dan ekonomi internasional.
Baca Juga: Ant Group Lepas Saham Paytm Senilai Rp3,4 Triliun, Sinyal Mundurnya Investor Asing?