SRINAGAR,KASHMIR,METROSELEBES.COM— Ketegangan yang mencekam selama berhari-hari di wilayah Kashmir akhirnya mereda setelah diumumkannya gencatan senjata antara India dan Pakistan. Namun di balik jeda tembak-menembak itu, warga sipil di Kashmir masih menyimpan luka dan ketakutan mendalam yang belum sembuh.
Baca Juga: India dan Pakistan di Ambang Bencana: Akankah Nuklir Jadi Pilihan?
Di sebuah sudut toko sembako milik pemerintah di kawasan padat Fateh Kadal, Srinagar, Hajira (62), tampak duduk dengan tubuh letih dan wajah menahan sakit. Dengan selendang motif paisley yang membalut bahunya, ia tergesa ingin menyelesaikan proses verifikasi biometrik untuk mendapatkan jatah beras bersubsidi bagi keluarganya.
“Saya hanya ingin cepat pulang. Situasi masih tidak pasti. Saya takut perang benar-benar terjadi,” ujarnya pelan.
Baca Juga: India Dan Pakistan Di Ambang Perang Terbuka, Wilayah Udara Ditutup Usai Serangan Rudal
Beberapa hari sebelumnya, Kashmir menjadi pusat eskalasi militer antara dua negara bersenjata nuklir, India dan Pakistan. Serangan drone, penutupan bandara, ledakan senjata, dan tembakan lintas batas membuat ribuan warga mengungsi dari perbatasan. Di tengah ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa ia telah berhasil menengahi gencatan senjata, memberi sedikit harapan pada rakyat yang terjebak dalam konflik yang tak pernah usai.
Baca Juga: Bara Lama Menyala Lagi: Krisis India-Pakistan Mengancam Perang Besar
Namun harapan itu cepat tergantikan oleh keraguan.
Kehidupan yang Terhenti
“Seumur hidup saya, belum pernah saya merasa takut seperti malam itu,” kata Hasnain Shabir (24), lulusan bisnis asal Srinagar, merujuk pada malam ketika drone kamikaze melintas dan ditembak jatuh oleh sistem pertahanan India. “Langit penuh dengan cahaya merah menyala, dan ledakan terjadi hampir setiap jam.”