METROSELEBES.COM-Ketegangan antara dua negara bersenjata nuklir, India dan Pakistan, kembali membara usai serangan udara besar-besaran yang dilancarkan India ke sembilan lokasi di wilayah Pakistan dan Kashmir yang dikelola Pakistan, Selasa malam (7/5). Serangan kilat selama 25 menit ini diklaim India sebagai respons terhadap serangan mematikan terhadap wisatawan di Pahalgam, Kashmir, bulan lalu.
India menyebut target mereka adalah markas kelompok militan seperti Lashkar-e-Taiba, Jaish-e-Mohammed, dan Hizbul Mujahideen. Namun, Pakistan membantah keberadaan kamp militan dan menyebut hanya enam lokasi yang terkena serangan. Islamabad juga mengklaim telah menembak jatuh lima jet India dan satu drone, meski belum ada konfirmasi dari pihak India.
Baca Juga: Langit Memerah, Rudal India Hantam Kompleks di Pakistan, Warga Panik dan Masjid Jadi Sasaran
Akibat serangan ini, 26 warga Pakistan dilaporkan tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Sementara itu, India menyebut 10 warganya tewas akibat tembakan balasan Pakistan di Garis Kontrol (LoC).
Analis menyebut serangan ini lebih berani dibanding serangan Balakot tahun 2019 karena India kali ini menghantam hingga wilayah dalam Pakistan, termasuk Bahawalpur dan Muridke. Langkah ini dianggap sebagai upaya India membangun kembali efek jera terhadap Pakistan.
Baca Juga: Hamas Tolak Lanjutkan Perundingan, Israel Siap Kuasai Seluruh Gaza
Respons dari Pakistan diprediksi tidak akan lama lagi. “Serangan balasan sangat mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan,” ujar analis militer Pakistan, Dr Ejaz Hussain. Namun, ia juga mengingatkan bahwa konflik terbatas ini bisa dengan cepat meningkat menjadi perang konvensional.
Sementara itu, militer Pakistan disebut tengah memanfaatkan situasi ini untuk kembali menggalang dukungan publik yang belakangan menurun akibat krisis politik dalam negeri.
Baca Juga: Dapur Umum Gaza Nyaris Lumpuh, Ratusan Ribu Warga Terancam Kelaparan Akibat Blokade Israel
Para pengamat memperingatkan, meski belum ada histeria perang di publik, ketegangan saat ini adalah yang paling berbahaya sejak 2002. Jika tidak dikendalikan, dunia bisa menyaksikan eskalasi besar antara dua negara bersenjata nuklir yang saling curiga.