KASAI Soroti Tantangan Regenerasi Petani, Dorong Restorasi Berbasis Ekosistem Agribisnis

photo author
Syamsir Anchi, Metro Selebes
- Senin, 29 Juni 2026 | 07:58 WIB
KASAI mendorong restorasi pertanian Indonesia melalui pembangunan ekosistem agribisnis berkelanjutan untuk menjawab tantangan regenerasi pertanian.(Dok. KASAI)
KASAI mendorong restorasi pertanian Indonesia melalui pembangunan ekosistem agribisnis berkelanjutan untuk menjawab tantangan regenerasi pertanian.(Dok. KASAI)

Inti berita:

KASAI mendorong transformasi pertanian Indonesia dari sekadar mengejar produksi menuju pembangunan ekosistem agribisnis yang berkelanjutan melalui lima agenda strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

 

METROSELEBES.com, JAKARTA - Produksi pangan nasional melimpah, namun tantangan yang membayangi sektor pertanian Indonesia justru semakin kompleks. Regenerasi petani yang melambat, alih fungsi lahan, hingga dampak perubahan iklim dinilai menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengejar target produksi semata.

Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Indonesia (KASAI) menilai pembangunan pertanian nasional perlu memasuki fase baru melalui restorasi ekosistem agribisnis yang lebih kolaboratif, inovatif, dan berkelanjutan. Gagasan tersebut disampaikan sebagai rekomendasi menghadapi arah pembangunan pertanian pasca-2026, sekaligus menjawab berbagai tantangan struktural yang masih dihadapi sektor ini.

Baca juga: Prabowo Siapkan Anggaran Riset Rp4 Triliun, Pemerintah Ingin Hasil Penelitian Langsung Menjawab Masalah Bangsa

Ketua Umum KASAI, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, mengatakan peningkatan produksi beras nasional pada 2025 patut diapresiasi. Namun, menurutnya, capaian tersebut belum cukup apabila persoalan mendasar seperti minimnya regenerasi petani, rendahnya adopsi teknologi, hingga lemahnya rantai nilai agribisnis belum dibenahi. "Jika pertanian Indonesia ingin survive dan tumbuh di era disruptif, kita harus berani keluar dari logika produksi semata. Yang dibutuhkan adalah membangun ekosistem pertanian yang kuat, adaptif, dan berkelanjutan," ujarnya, Minggu (28/6).

Sebagai langkah strategis, KASAI mengusulkan lima agenda prioritas, yakni penguatan sistem budidaya berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan lokal, transformasi petani menjadi agripreneur, pembangunan ekosistem kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, percepatan hilirisasi komoditas pertanian, serta perluasan penerapan konsep Climate Smart Agriculture yang ramah lingkungan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Baca juga: Polisi Tegaskan Pelaku Penganiayaan Caddy Golf Tangerang Bukan Pejabat, Ternyata Pengusaha Mobil Bekas

Di sisi lain, KASAI juga mengakui bahwa keberhasilan transformasi tersebut memerlukan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, komunitas hingga media. Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci agar kebijakan yang dirancang tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi dapat diterapkan secara nyata di lapangan.

Prof. Achmad menambahkan, transformasi pertanian tidak hanya bertumpu pada teknologi dan investasi, tetapi juga harus diperkuat dengan modal sosial masyarakat seperti budaya gotong royong, saling menghormati, dan semangat belajar bersama. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi perubahan ekonomi maupun tantangan sektor pertanian.

Melalui rekomendasi tersebut, KASAI berharap pembangunan pertanian Indonesia mampu menghasilkan kesejahteraan petani yang lebih baik, memperkuat ketahanan pangan nasional, membuka lapangan kerja berkualitas, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Organisasi yang menghimpun alumni bidang sosial ekonomi pertanian dan agribisnis dari berbagai perguruan tinggi itu menyatakan siap terus berkontribusi melalui riset, advokasi kebijakan, dan pengembangan sumber daya manusia.(*)

(Ade/Man)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Syamsir Anchi

Tags

X