Inti berita:
• Kemhan menegaskan latihan dasar bagi peserta SPPI merupakan pembentukan karakter dan kepemimpinan bagi calon manajer Koperasi Merah Putih.
• Latsar dimaksudkan bukan pendidikan militer untuk mencetak prajurit, di tengah sorotan publik serta konfirmasi meninggalnya lima peserta akibat kondisi kesehatan berbeda.
METROSELEBES.com, JAKARTA - Sorotan terhadap latihan dasar yang dijalani calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) terus bergulir. Pelatihan yang melibatkan unsur bela negara itu memunculkan pertanyaan publik karena dinilai menyerupai pendidikan militer bagi prajurit.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pertahanan (Kemhan) menegaskan bahwa pelatihan bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tidak dirancang untuk mencetak prajurit. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan, mengatakan seluruh peserta tetap berstatus sebagai tenaga sipil yang dipersiapkan menjadi pengelola koperasi.
Baca juga: Ustadz Sanaruddin Ingatkan Pentingnya Menjaga Keutuhan Rumah Tangga di Tengah Maraknya Perceraian
"Perlu kami tegaskan bahwa kegiatan ini bukan bertujuan membentuk peserta menjadi prajurit atau anggota militer. Para peserta tetap berada pada profesi dan penugasan sipilnya sebagai calon manajer pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih," ujar Ketut dalam konferensi pers di Kantor Kemhan, Jumat (26/6/2026).
Menurut Ketut, materi latihan lebih diarahkan pada pembentukan karakter, kepemimpinan, disiplin, integritas, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, profesionalisme, hingga kesiapan menghadapi tekanan. Kemhan menilai kemampuan tersebut dibutuhkan agar para calon manajer mampu menjalankan koperasi secara efektif sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat yang menjadi bagian dari ketahanan nasional.
Kemhan juga menepis anggapan bahwa pelatihan SPPI identik dengan pendidikan militer. Ketut menegaskan kurikulum disusun khusus dengan mempertimbangkan latar belakang peserta sebagai masyarakat sipil sehingga penekanannya bukan pada kemampuan fisik, melainkan pembinaan mental, karakter, daya juang, dan kemampuan memecahkan persoalan di lapangan.
Baca juga: Apparalang Ditutup, PILHI Minta Pemkab Bulukumba Putus Pengelolaan Ilegal dan Benahi Keselamatan
Di sisi lain, penyelenggaraan program ini turut menjadi perhatian setelah Kemhan mengonfirmasi lima peserta SPPI meninggal dunia selama mengikuti rangkaian kegiatan. Kelima peserta disebut telah memperoleh penanganan medis intensif, sementara penyebab kematian berbeda-beda, mulai dari henti jantung hingga tuberkulosis sesuai hasil penanganan medis yang disampaikan Kemhan.
Dengan penjelasan tersebut, Kemhan berharap masyarakat memperoleh gambaran utuh mengenai tujuan pelatihan SPPI. Meski demikian, perhatian publik terhadap aspek keselamatan peserta diperkirakan tetap akan menjadi bagian penting dalam evaluasi pelaksanaan program ke depan.(*)
(Sam/Man)
Artikel Terkait
Gudang Kontainer di Tengah Kota Makassar Tuai Sorotan, Warga Keluhkan Kemacetan Akibat Truk Trailer
Datangi Kejati Sulsel, FORMAK Luwu Timur Desak Pengusutan Tuntas Dugaan Korupsi dan Tolak WTP Jadi Tameng
Jejak Kasus Dokter Icha: Dugaan Intimidasi saat Bertugas Berujung Duka, Kematian Dokter IGD Jadi Sorotan
Prabowo di Hadapan 2.600 Akademisi: Elite Harus Bersatu, Jangan Terjebak Gaduh Politik yang Hambat Kemajuan Bangsa
Bareskrim Tetapkan 287 WNA Tersangka Kasus Judi Online Hayam Wuruk, Nilai Deposit Capai Rp13,9 Triliun