Kondisi serupa pernah terjadi di Jerman, di mana penjualan EV turun drastis setelah subsidi dihapus pada akhir 2023.
Insentif pajak untuk EV pertama kali diperkenalkan pada 2008, kemudian diperluas melalui Inflation Reduction Act pada 2022 dengan syarat tambahan bahwa kendaraan harus diproduksi di AS menggunakan komponen baterai dari dalam negeri.
Analis dari Barclays memprediksi akan terjadi “pembelian besar-besaran” EV pada kuartal ketiga, sebelum permintaan anjlok tajam setelahnya.
Dmitry Agapitov, manajer penjualan di Northwood Chevrolet dan Hyundai, California, mencatat bahwa lonjakan penjualan biasanya terjadi menjelang tenggat-tenggat seperti ini. Ia yakin tren yang sama akan berulang kali ini.
“Kami sudah mengantisipasi dampaknya terhadap penjualan,” katanya.
Di tengah kekhawatiran harga tinggi dan infrastruktur pengisian yang masih terbatas, insentif pajak dianggap sebagai penyeimbang utama. Data dari Cox Automotive menunjukkan bahwa harga rata-rata EV pada Mei mencapai $58.000, sekitar $10.000 lebih mahal dibandingkan harga mobil baru secara umum.
Tim Presiden Donald Trump, bahkan sejak sebelum pelantikannya, telah menyusun strategi untuk mengakhiri berbagai insentif terhadap kendaraan listrik. Hal ini mendorong sebagian konsumen untuk mempercepat pembelian mereka lebih awal tahun ini.
Baca Juga: Trump Serang Perdagangan Global Lewat Gelombang Tarif Baru, EU Berlomba Capai Kesepakatan
“Jika masih ada yang belum membeli EV-nya, mereka kemungkinan besar akan melakukannya pada kuartal ketiga. Konsumen merasa sekarang ada tenggat waktu yang harus dikejar,” ujar Sam Fiorani, Wakil Presiden AutoForecast Solutions.