Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan penurunan angka kemiskinan ekstrem dari 2,18% pada 2022 menjadi 1,13% pada September 2024, hasil nyata dari pendekatan spasial ini.
Ini memperkuat efektivitas strategi dengan membuka akses terhadap layanan dasar dan meningkatkan konektivitas wilayah tertinggal.
Menurut laporan World Bank tahun 2023, intervensi berbasis wilayah atau place-based policy sangat efektif untuk menjangkau kelompok miskin kronis yang berada di wilayah terpencil, dan bahkan mampu memotong kemiskinan hingga dua kali lebih cepat dibanding program umum.
Baca Juga: Dua Arah Bintang Lapangan: Takefusa Kubo dan Ole Romeny, Wajah Baru Sepak Bola Asia dan Indonesia
Karena itu, strategi ini dipandang sebagai solusi berkelanjutan yang mampu memberdayakan masyarakat secara menyeluruh.
Dengan menyasar langsung wilayah-wilayah yang selama ini tertinggal, diharapkan warga di dalamnya memiliki peluang hidup lebih layak, mandiri, dan cepat keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.***
Artikel Terkait
Rompi Api Sinergi: Sri Mulyani & Sjafrie Jaga Garis Depan Keuangan dan Pertahanan di Nduga
Dapur MBG Padang Pariaman Siap Penuhi 3.500 Porsi per Hari, Andalan Baru Ketahanan Gizi Nasional
Ribuan Daging Kurban Disalurkan ATR/BPN: Keteladanan Kurban dari Birokrasi untuk Negeri
Palestina sebagai Warisan Tauhid: Tamsil Linrung Tegaskan Determinasi Iman dan Jejak Nabi Ibrahim
Langkah Hijau Menhan: Misi Biodiesel Sawit untuk Ketahanan Energi Dimulai dari Papua Selatan
Visa Aktif Tapi Dideportasi: Ironi Calon Haji Indonesia di Tanah Suci
Dua Arah Bintang Lapangan: Takefusa Kubo dan Ole Romeny, Wajah Baru Sepak Bola Asia dan Indonesia
Lonjakan Perkebunan Dongkrak Pertumbuhan Pertanian Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir
BSU 2025 Resmi Bergulir! Harapan Baru Pekerja Lewat Permenaker Terbaru
Koperasi Desa Merah Putih: Solusi Ekonomi Rakyat yang Tumbuh dari Akar Desa