Namun, para aktivis mengatakan bahwa kondisi di lapangan justru membuat masyarakat semakin takut untuk bergerak. “Dalam keadaan mengerikan seperti ini, orang-orang hanya fokus menyelamatkan diri, keluarga, dan bahkan hewan peliharaan mereka,” kata Atena Daemi, aktivis terkemuka yang pernah dipenjara selama enam tahun sebelum akhirnya meninggalkan Iran.
Kekhawatiran serupa disuarakan oleh pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Narges Mohammadi. Dalam tanggapannya terhadap permintaan Israel agar warga meninggalkan sebagian wilayah Teheran, ia menulis: “Jangan hancurkan kotaku.”
Dua aktivis lain di Iran yang pernah terlibat dalam protes besar tahun 2022 setelah kematian Mahsa Amini, menyampaikan bahwa mereka tidak berencana untuk turun ke jalan saat ini. “Setelah serangan udara berakhir, kami akan bersuara karena rezim ini bertanggung jawab atas perang ini,” kata salah satu dari mereka, seorang mahasiswa di Shiraz.
Baca Juga: Keseimbangan Tak Setara: Israel Vs Iran dalam Kekuatan Militer Modern
Aktivis lain yang pernah dipenjara lima bulan dan kehilangan tempat di universitasnya menilai bahwa perubahan rezim memang dibutuhkan, namun waktunya belum tiba. Ia bahkan mengkritik seruan dari luar negeri, termasuk dari Reza Pahlavi dan Israel, sebagai tindakan yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi.
Oposisi di Luar Negeri: Terpecah dan Dipertanyakan
Selain kelompok monarki yang dipimpin Pahlavi, oposisi utama di luar negeri adalah Mujahidin Rakyat Iran (MEK), yang dikenal juga sebagai MKO. Kelompok ini dulunya merupakan faksi revolusioner yang kehilangan pengaruh setelah rezim Shah tumbang. MEK juga menuai kritik keras karena bersekutu dengan Irak selama Perang Iran-Irak (1980–1988) dan dituduh melakukan pelanggaran HAM serta praktik-praktik mirip sekte, tuduhan yang mereka bantah.
Baca Juga: Prabowo Buka Jakarta Fair 2025: Inovasi dan Pemberdayaan Jadi Mesin Bangkitnya Ekonomi Rakyat
MEK berada di balik Dewan Nasional Perlawanan Iran, yang seperti Pahlavi, menjalin hubungan erat dengan sejumlah politisi Barat. Dalam forum di Paris pekan ini, pemimpin mereka Maryam Rajavi menegaskan penolakannya terhadap kembalinya sistem monarki, dengan menyatakan, “Baik Shah maupun ulama tidak boleh kembali.”
Namun, dukungan riil dari dalam negeri terhadap kelompok-kelompok oposisi luar negeri ini masih diragukan. Sebagian rakyat Iran masih menyimpan nostalgia terhadap era pra-revolusi, meski sebagian besar generasi muda tak pernah mengalami masa itu secara langsung.